Beranda Judul

Friday, 2 March 2012

Perjalanan Sajakku



 Komunitas Kanot Bu




Seperti biasanya. Mengambil pensil kayu yang telah menjadi sajak kecil. Pernah membuatku merasa tertawa sendiri. Ada sentuhan takjub yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Dan pada saat seperti itulah, aku menamainya "Pensil Kayu" yang malu-malu aku tuliskan ke word untuk aku kirimkan ke email redaktur budaya di koran lokal. Dan tak terkhira, akhirnya puisi itu menghiasi lembarannya. Puisi itu menegurku dengan sentuhan goresan batinya. Ada "aku di sini," sahut kecilnya memanggilku.

Wajahku


......





Apa adanya saja. Itulah hakikatnya manusia yang baik. Tidak perlu berkesudahan tentang tatapan kebohongan kita. Dan kita sendiri yang menatap kebohongan itu, lalu sambil berkata "aku ada di antara kebohongan yang kau buat, kau ciptakan hadir di tempat ini". Dan semestinya kita menyadari dari lekuk tubuh yang berjerawat nakal. Berdarah dan menegur waktu di hadapan cermin. Sungguh gombalan isi hati yang sulit ditebak dari lantunan jari, mata, dan tatapan kebohongan itu sendiri.


Ganja




Tak ada yang asik, ketika duduk dengan wajah memaksa bodoh di antara sebatang rokok dan suara botol minuman yang sengaja dipecahkan. Untuk menghilangkan rasa galau. Menghilangkan tanda-tanda stres, kemudian meraut keuntungan dari imjinasi berpuisi ria dengan naluri diri sendiri.

Friday, 24 February 2012

Menulis Puisi




Trik menulis puisi dariku:

Ada yang menanyakan perihal cara menulis puisi, jika keadaan kita sedang drop atau sedang tak konsentrasi terhadap suatu pekerjaan yang namanya menulis puisi. Pertanyaan itu, hampir setiap hari aku terima di jejaringan sosial seperti facebook yang aku pakai hingga sekarang. Nah, daripada aku harus mengutarakannya berulang kali tak ada salahnya kalau jawabannya aku sare ke blog pribadiku saja. Lagipula, tulisan ini memang berangkat dari dasar prosesku menulis catatan harian dan ketika sedang menulis puisi di waktu senggang. Baiklah, di bawah ini ada dua cara menulis puisi. Semoga bisa dipahami dan dikerjakan dengan baik.

Memiriskan Hati

Oleh : Deddy Firtana Iman

Kelopak duri bertahta sendiri
Suasana lakon iri hati
Memungkinkan hidup bertepi
Pada kemelut resah berduri
Rupanya hati teriris sepi

Tancapkanlah pisau tak bergigi
Pada tepian iri hati
Kemungkinan kau sendiri
memaksaku jual diri
Sebab, tiada arti hidup sendiri

2009
Dimuat di Situseni.com

Puisi Sunyi

Puisiku mati membusuk
Terhina namum terdiam
Seakan manja berteriak
Akan suatu isyarat
Kata tersembunyi telat
Menimbulkan tiada tepat
Kata dan maknanya
Yang rekat dan padat
Seruling sunyi
Gelisah bernyanyi
Puisiku mati suri

2009

Puisi Jaga Malam

Malam dingin
aku melamun tentang kesepian kota
terhenti dengan neon perkampungan sudut
kota
apa ada gerangan menjerit duka
dengan berpura-pura mabuk di dekatku
melirikku dengan untaian lagu kesepian
Inilah kota juang
yang dibicarakan orang-orang dungu
tentang pejuang yang gagal
tanpa ada cacat sedikitpun
melarikan diri dari kepungan kematian.
Cahaya inilah buktinya,
terus-menerus melirik jawaban kebena-
ran,
tentang hilangya prajurit kami.

2009

*Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 18 April 2010

Badai Kemenangan

Kekacauan itu
Merobek isi usus buntu
Hingga mencakarnya
Menjadi sekumpulan debu
Dan binasalah aku
Meradang
Menerjang
Badai kemenangan
Menjuarai kesenangan
Kekacauan itu
Menghapuskanku yang kaku
Tanpa kumegerti
Aku masi melawan
Tentang hukum berdiri sendiri

15-01-2009



Dimuat di: Gemasastrin

Sunday, 12 February 2012

Melumrahkan Jalan Hening yang Berirama


Sebelumnya saya minta maaf, karena keluangan waktu yang tidak bisa diajak kompromi (banyak tugas (baca: nguli) offline), jadi Dokumen bagi "Warga BPSM" yang Ingin Sajaknya Diulas Oleh Usup Supriyadi saya hapus, jadi, untuk selanjutnya saya hanya mengulas yang ingin saya ulas saja. Berikut ini empat sajak yang coba saya ulas karena memang masih ada dan belum sempat diulas dalam dokumen tersebut.


Yudi Damanhuri
SENJA BERIRAMA

: Begawan Penabur Kasih (Martin)

Semakin senja
selalu ceria
memainkan kata
selalu berirama

Semakin senja
tajam beraksara
dengan pena
menebus dosa

Banten 09/02/12

Thursday, 9 February 2012

Tuesday, 31 January 2012

INFORMASI "JEJAK SAJAK" SEHIMPUN PUISI GENERASI KINI


DARI A – Z NAMA PENYAIR YANG TERPILIH DALAM BUKU JEJAK SAJAK

Luar biasa! Inilah yang patut dikemukakan sebagai sebentuk apresiasi atas inisiatif menerbitkan buku JEJAK SAJAK, Sehimpun Puisi Generasi Kini. Buku kedua setelah SENJA DI BATAS KATA, Antologi Puisi Karya Penyair Nusantara Raya, untuk milad DAM, kini tengah diproses buku kedua. Jika buku perdana dikuratori sendiri oleh DAM (sebagai sebentuk rasa syukur milad ke-52, yang dihadiahi banyak puisi dari sahabat di seluruh penjuru nusantara raya), buku JEJAK SAJAK dikuratori oleh tim yang terdiri dari Arsyad Indradi (Banjarbaru, Kalimanatan Selatan), D Kemalawati (Banda Aceh), dan Dimas Arika Mihardja (Jambi).
Arsyad Indradi, Penyair Gila, Blogger, dan dedengkot berkesenian di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, penyair Gaek ini telah berkarya sejak tahun 1970-an hingga saat ini. Satu kegilaannya yang terkenal senusantara ialah menerbitkan buku super tebal berjudul 142 Penyair Menuju Bulan, yang diterbitkan sendiri mulai dari pengumpulan naskah, pengetikan, layout, desain cover, mencetak, menjilid hingga pendanaannya dan distribusinya ke seluruh kawasan nusantara. Reputasi dan dedikasi lelaki Banjar ini tak diragukan lagi. Matanya selalu melototi puisi hingga larut malam. Terus bergumul dengan puisi hingga usia 60-an tahun, ngluyur dari kota ke kota hanya ngurusi puisi dan blog dan berkesian.

Sunday, 11 December 2011

Deddy Firtana Sang Penyair



Nota Ringkas

Oleh A.Kohar Ibrahim

KERAP kali datang rangkaian pertanyaan dari kalangan generasi muda sekaitan dengan aktivitas-kreativitas tulis menulis. Salah satunya pertanyaan tentang kepenyairan. Seketika aku jadi teringat sekian waktu yang lalu, nada ranya nyaris serupa pun diajukan kepada penyair Sejuta Puisi Hasan Aspahani. Yang memberi jawaban cekak-aos: Penyair ya menulis syair.

Dalam variasi ekspresi lainnya, aku sering bilang bahwasanya: Penulis ya menulis dan pelukis ya melukis. Hasil nyata kreativitas bukti utamanya. Sekaligus bukti esksistensinya.

Begitulah anggap tanggapanku akan sorang seperti Deddy Firtana Iman, kelahiran Banda Aceh 21 Juni 1986. Penerima pendidikan setelah di SMA Negeri Banda Aceh lantas lanjut ke FKIP UNSYIAH Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia.

Maka tak mengherankan jikalau putera Negeri Serambi Mekah ini punya perhatian pada kesusastraan dunia umumnya, khususnya Indonesia. Salah satu sosok penyair dunia yang dikenalnya adalah penyair Chili: Pablo Neruda. Dan tak heran kalau dia suka membaca, khususnya sederetan sastrawan dan penyair Indonesia. Seperti antara lain Chairil Anwar, Joko Pinurbo, WS Rendra, Wiji Thukul dan sudah tentu Pramoedya Ananta Toer yang ujar katanya dijadikan Kutipan yang paling disenangi: “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”

Menjelang Kelahiran Antologi Suara-Suara Dari Pinggiran


Salam bahagia kepada anda semua, terutama kepada segenap anggota Kelompok Studi sastra Bianglala dan komunitas haiku Danau Angsa. Hari demi hari terlewati, akhirnya proses penerbitan antologi puisi mbeling Suara Suara dari Pinggiran semakin mendekati proses kelahirannya. Antologi puisi ini sepertinya akan menjadi sebuah antologi yang khas dan berkualitas.
Kata pengantarnya ditulis oleh Remy Sylado, penyair, novelis, aktor dan ahli bahasa, pencetus gerakan puisi mbeling di tahun ’70-an, yang mewarnai sejarah sastra Indonesia. Esai pembuka ditulis oleh Heru Emka dan esai penutupnya, ditulis oleh Cunong Nunuk Suraja. Gambar sampulnya dibuat oleh Eddie Hara, perupa kontemporer kita. Oh ya, Eddhie Hara telah datang dari Swiss ke Semarang 10 November silam ) untuk menyerahkan printing art-nya kepada saya ). Terima kasih Eddie !
Yang membuat saya bahagia adalah selain banyak bergabung nama-nama beken dari dunia sastra kita, banyak juga nama-nama baru dari para penyair muda, dengan karyanya yang menggigit dan menggemaskan. Lebih dari 50 nama berhimpun dalam antologi ini, yang akan diterbitkan oleh Kelompok Studi Sastra Bianglala. Di bawah ini adalah nama-nama para penyair yang akan menjadi bagian dari antologi ini. Bila anda berminat untuk bergabung, belum terlambat. Kirimkan 20 puisi mbeling anda, berikut foto dan biodata ke heruemka@yahoo.com, hingga 5 Desember 2011.
Inilah daftar para penyair antologi puisi mbeling Suara Suara dari pinggiran :

Membaca Tabir Kalbu Mahasiswa Kontemporer

(Catatan Kecil untuk Puisi Parade Tiga Kampus)

Oleh; Herman RN

Puisi sebagai sebuah karya sastra yang “merdeka”, yang lahir dari proses kontemplasi mendalam bukanlah milik penyair sudah jadi semata. Akan tetapi, orang yang sudah berhasil menulis puisi dan produktif di wilayah kerjanya (menulis puisi) akan disebut sebagai penyair adalah sebuah keniscayaan. Pertanyaannya, bagaimanakah bila yang melakoni itu mahasiswa?

Sejatinya, banyak penyair Tanah Air di era kontemporer tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi—baik negeri maupun swasta. Di warkah ini, saya tak mesti menyebutnya satu per satu. Namun, dapat diamati dari berbagai lomba cipta puisi yang diadakan di berbagai daerah, peserta yang ikut kebanyakan dari mahasiwa. Bahkan, ada pula yang memang namanya “Lomba Cipta Puisi Tingkat Mahasiswa”. Lantas, saat mahasiswa tersebut berhasil meraih penghargaan, sebagian kecil mulai menggerayangi kerja penciptaan puisi sehingga ia pun diakui sebagai penyair, bolehkah?

Sulit memang mencari identitas kepenyairan dalam diri seseorang: apakah karena ia telah berhasil menulis sebuah puisi dan menang dalam sebuah lomba akan dikatakan sebagai penyair; atau mereka yang tidak menang lomba tetapi puisinya dimuat di salah satu media (koran) baru disebut sebagai penyair; atau mereka yang tak pernah menang lomba dan tak pernah dimuat di media, tetapi puisinya sudah pernah dibukukan dalam antologi bersama penyair lain yang boleh dikatakan sebagai penyair; atau mereka yang puisinya tidak pernah menang lomba, tidak pernah dimuat media, tidak pernah dibukukan dalam antologi bersama,

"dua penyair di balik bing" - jojo mohak jalang dan delima de wilde sri"


Penulis: Hudan Hidayat


jojo jalang
cinta di balik puisi

Lembaran lama diantara sejuta puisi
Ini ada sedikit diksi tertunda ke beranda matamu
Dikala malam menjemput mimpi-mimpi indah
Menemanimu bersemayam lembaran puisiku
Ketika untaian kata bertegur sapa dengan ingatan
Beberapa ucapan kegelisahanku berserakan
Diantara lembaran putih untukmu

Ini ada sedikit puisi
Di balik sejuta daya imajinasiku
Beberapa bulan yang lalu
Dengan berat hati
Aku berkata padamu
“Cinta di balik puisi”

2010

Antologi Puisi Seratus Penyair Dunia Maya

Kami, dari Kelompok Studi Sastra Bianglala, telah mencoba menjadikan Facebook ini sebagai media budaya alternatif, untuk memelihara semangat mencintai sastra Indonesia.Kami tak saja menyediakan ruang bagi puisi, cerpen dan esai sastra ( terima kasih untuk teman-teman yang sudah bergabung dan memanfaat ruang maya ini untuk berbagi semangat mencintai sastra Indonesia ) namun juga mengupayakan penerbitan alternatif dan pembelajaran penulisan kreatif melalui dunia maya. Tentang pelatihan menulis kreatif, saya dan beberapa teman sedang menyusun pola dan metodenya. Sedangkan poenerbitan alternatif, sudah dimulai dengan menerbitkan antologi haiku Danau Angsa ( bekerja sama dengan Gramedia Pustaka Utama ) dan bukunya kini sudah beredar luas di seluruh took buku Gramedia di Indonesia.
Sebagai tindak lanjutnya, akan segera diterbitkan juga tiga antologi puisi lagi. Yang pertama adalah antologi haiku Danau Angsa 2. Yang ini khusus berisi haiku karya 50 penyair perempuan Indonesia, dan penggarapannya sedang berjalan.
Yang kedua adalah penerbitan antologi Suara Suara dari Pinggiran ( Voices From The Edge ) yang berisikan Puisi Mbeling karya 50 penyair Indonesia. Kata pengantarnya ditulis oleh Remy Silado, sastrawan dan penggagas gerakan puisi mbeling di tahun ’70-an. Esai pembuka ditulis oleh Heru Emka, esai penutup ditulis oleh Cunong Nunuk Suraja, sedangkan gambar sampulnya dibuat oleh Eddie Hara, pelukis kontemporer kita yang kini bermukim di Swiss. Antologi ini memuat puisi alternatif yang menyegarkan khasanah sastra Indonesia, dari para penyair beken seperti Yudhistira ardi Nugraha, F. Rahardi, hingga penyair pemula seperti La Rose Djayakusuma dan Ratnaq Dewi Barrie.
Yang ketiga adalah penerbitan antologi puisi Seratus Penyair Dunia Maya, yang berisi seratus puisi terpilih dari para sahabat kita di dunia maya. Antologi ini bukanlah sekedar antologi puisi dunia maya, seperti biasanya, karena rencananya akan diterbitkan dalam dua bahasa ( Inggris dan Indonesia ) dan akan didistribusikan juga di manca negara.

Nyak Maneh

Karya Deddy Firtana Iman


Mimpinya tak banyak
Untuk membahagiakan
orang-orang terkasih
Pakaian usang
Memakai topi jerami
Sandal jepit
Keranjang sampah
dan mulai berjalan lurus ke depan
Sambil mewaspadai gerak-gerik angin
Menemani setiap langkah kakinya
Napasmu
Melaju bayang-bayang semu
Mengukir pejanggal perut
Mengalir di setiap gerakan tangan
Kakinya berkerut
Dan tubuhnya kurus
Tak pernah lelah mengais rezeki
Dalam tumpukan sampah
Penuh dengan bau busuk
Dan berbagai penyakit
Tak mengusiknya untuk berhenti

Matanya gesit
Tangannya cekatan
Ada kaleng, botol plastik
Dan semuanya bisa dijual
Dikumpulkan dalam keranjang sampahnya
Untuk sesuap nasi di hari ini

Deddy Firtana Iman bergiat di Komunitas Kanot Bu.

Dimuat Minggu, 11 Desember 2011 08:19 WIB

Sunday, 20 November 2011

Ekspresi Puisi Menentang Eksekuasi - Essai Oleh A.Kohar Ibrahim

Kreasi Puisi Ekspresi Menentang Eksekusi
Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis
(19)

Oleh : A.Kohar Ibrahim
*
Di sinilah sekarang
dan dari sini
kami bertekad :
bangkit
bangkitlah
demi kemerdekaan
maju
majulah
demi kemanusiaan
(Hersri Setiawan)
*
Mereka menyalakan api
menuntut demokrasi
menuntut hak azasi
menetang eksekusi
(Chalik Hamid)
*
Manifestasi Ekspresi Melawan Represi Eksekusi
KREASI N° 5 yang sedikit banyaknya mempertandakan cerminan « situasi sastra : sastra situasi » tanahair itu, istimewa sekali tersajikannya seberkas karya tulis berkenaan dengan situasi yang gawat sekaligus mencemarkan cita bangsa Indonesia. Yakni berupa bukti dari manifestasi aksi pelanggaran HAM alias suatu kejahatan kemanusiaan, sebagai pelengkap kejahatan rezim Orde Baru lainnya, yakni Kolusi Korupsi Nepotisme alias KKN.

Sajak Obrolan Kopi Susu

Karya Deddy Firtana Iman



Bunga kopi ini pernah mengambang di atas air. Meluncur ketepian saringan kopi. Menebarkan harum. Dan kian menegur hidungmu yang mancung. Jangan bicara keras-keras, tentang keistimewaan kopi kita. Tentang aroma dan tentang segala curahan pengolahannya yang tiada duanya. Cukup menegur dengan uapnya dan hidangan itu seakan ada di dalam lambungmu yang terbuat dari cangkir yang kecil .

Kaleng ini pernah juga menderaskan kucuran susu sapi entah dari mana asalnya. Mungkin kau enggan menceritakan sejauh mana kau singgahi kandangnya yang terbuat dari pohon bambu. Atau kau ingin bersembunyi sebagai manisannya di dalam secangkir kopiku. Di malam yang dingin ini. Entahlah, naluriku berkata lain .

2011


Deddy Firtana Iman adalah pegiat di Komunitas Kanot Bu.

Dimuat tanggal 16 November 2011.

Sumber:
Aceh Corner


...

Sajak Lelah

Karya Deddy Firtana Iman


Lipatan resah telah tertulis cinta gemuruh diantara beranda hatimu yang resah. Aku enggan menuliskan letak suara sepi itu dimana hadirnya. Yang aku tahu kesetian kedua kalinya ada di kantong hatimu seorang dan jika aku menutup sela, berarti aku telah mengunci pelataran hatiku juga .

Lelah di sini, berarti lelah mengabarkan cinta walaupun cinta palsu yang hadir .

Lampu kota juga menjadi penerangan untuk merapat duduk berdua, cahayanya penerang isi hati untuk mengabarkan kebenaran. Kita pun telah mengucapkan kelelahan itu diantara dua isi, antara aku dan kau .

Januari 2011


Deddy Firtana Iman adalah pegiat di Komunitas Kanot Bu.

Dimuat tanggal 16 November 2011.

Sumber:
Aceh Corner

...