Beranda Judul

Showing posts with label Muhammad Rois Rinaldi. Show all posts
Showing posts with label Muhammad Rois Rinaldi. Show all posts

Friday, 2 August 2013

Penggalian Kesan Puitik Dari Kata Biasa Jadi Tak Biasa Di "Januari" Deddy Firtana Iman



Karya Muhammad Rois Rinaldi

Tidak lain tidak bukan, jadi penyair adalah kecelakaan besar! penyair-penyair adalah mereka yang setiap harinya dibuat gelisah dan susah, tak jarang sampai mendesah lelah namun enggan juga menyerah. Seorang penyair setiap harinya akan berkutat pada kata dan kata yang kemudian diolah dalam rasa dengan berbagai bumbu khas sehingga disajikan di meja pembaca atau boleh jadi hanya dibiarkan tertutup tudung saji, namun tentu bukan jadi pilihan jika puisi dibiarkan basi kan?

Karya sastra (puisi) baik liris, imajis dan sebagainya merupakan buah karya dari pengamatan, pendalaman, pemahaman, dari keadan-keadaan yang dilihat olah kasat mata baik dirasakan sendiri atau menimpa orang di sekitar atau bahkan melihat berita di televise dan sebagainya. Dan boleh jadi juga buah perjalanan kebatinan yang amat mengesankan sehingga patut untuk diabadikan dalam puisi. Segalanya boleh jadi, sinyal-sinyal mampu merangsang hati terdalam untuk merangkai kata-kata demi meluapkan isi hati seutuhnya. Di sinilah ruang masak dengan dapur dan bumbu khas itu berada, tergantung pada tebal tipisnya dinding-dinding perasaan, dan juga pengalaman-pengalaman kebatinan yang dimiliki.  Lantas bagaimana dengan proses pemilihan kata (diksi)? Yang tujuannya adalah untuk memberikan kebaruan menu yang tentunya baik, sehat dan bergizi serta bermanfaat bagi para pembaca.

Dengan berlandaskan kegelisahan demi kegelisahan akan proses kretivitas kepenulisan inilah yang membuat para penyair, terutama yang masih berjiwa muda melakukan penggalian-penggalian kesan puitik pada kata-kata yang biasa digunakan dalam bahasa keseharian atau pun pada kata-kata yang asing sama sekali di kuping. Banyak sekali kemungkinan penggalian, yang jadi penghalang adalah keberanian penyair itu sendiri untuk mendobrak konvensi demi menemukan konvensi. Karena diakui atau tidak penyair adalah pengikut dan pembuat konvensi!

Begitu pun dengan Deddy Firtana Iman , kelahiran Banda Aceh 21 Juni 1986. Penerima pendidikan setelah di SMA Negeri Banda Aceh lantas lanjut ke FKIP UNSYIAH Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia  ini, rupanya tengah menggali kesan-kesan puitik dari rentetan kata keseharian. Dan inilah yang akan memperkaya kazanah Bahasa Indonesia juga kazanah kesusastraan Indonesia. Jadi ingat si Rumput Bergoyang (Ebit G Ade) Kepada Pemeluk Teguh (Chairil Anwar) dan kata-kata lainnya yang jadi amat melekat pada kedirian ucap penyairnya. Ya! Amat diperlukan dan boleh jadi ini serupa himbauan tanpa abai pada bahasa yang telah ada sebelumnya, penyair masa kini semestinya mencari dan terus menggali kemungkinan-kemungkinan dari kata-kata yang setiap harinya berseliweran tak usah mencari yang aneh-aneh selalu, cukup yang sederhana demi memperdalam kesan puitik dalam karya-karyanya. Dan tentu yang tidak kalah pentingnya adalah mempertajam kepekaan diri akan realita dan mimpi serta seluruh dekor-dekor keberadaan Robb, Manusia, dan alam semesta ini. 

Apakah benar Deddy tengah menggali kesan puitik dari kata-kata keseharian? Agar dapat mejawab pertanyaan ini, mari kita telusuri puisi berjudul  “Januari”

Januari
Karya: Deddy Firtana Iman

Korban kekerasan
Tikamlah aku
Sebelum saatnya

Korban keganasan
Injaklah aku
Sebelum kumarah

Korban kebohongan
Tipulah aku
Sebelum kusadar

Korban kebencian
Hinalah aku
Sebelum aku pergi

Januari
Itulah cerita negeri kami
Para penjilat lidah menari
Sebelum esok berganti Juni

2009

Dimuat di majalah "Lensa Unmuha" edisi VI/Maret 2009



Dengan memberi judul puisi “Januari” konsekuensinya adalah pada awal pembacaan tentu yang tertangkap adalah sebuah bulan antara dua belas bulan lainnya, yakni Januari (saja) daya tariknya akan sedikit kurang, namun akan lain hal jika ditelisik dari ruang konotatifnya atau makna yang tidak sebenarnya. Bulan Januari bisa saja berisikan rangkuman perjalanan hidup, gambaran sebongkah luka, wajah kekasih, wajah lawan dan kawan dan Hujan, Badai, Kematian, banyak hal yang bisa ditemukan dalam satu bulan saja. Lantas dalam puisi ini apakah yang terjadi dengan januari dan apakah korelasinya dengan penggalian kesan puitik pada kata-kata keseharian?  Mari lanjutkan penelusuran!


Korban kekerasan
Tikamlah aku
Sebelum saatnya

Pada bait pembuka, dapat dirasakan sebentuk kegeraman yang sebegitu garang. Dan di sana hanya ada kata-kata yang amat biasa saja kan? Tapi dengan bahasa sederhana bisa menghadirkan hentakan yang cukup menggetarkan relung pembaca, di sini masih meninggalkan tanda tanya, ada apa dengan “Korban kekerasan”? Mengapa harus menikam “Sebelum waktunya”?

Korban keganasan
Injaklah aku
Sebelum kumarah

Pada bait kedua masih dengan pola yang sama, “Korban keganasan” masih belum ditemukan dan kemarahan masih menderu jeram serta keterangan “Sebelum kumarah” menjadi penjelasan, paling tidak sedikit jelas apa maksud “Sebelum waktunya” di bait pertama. Dan belum saatnya menyimpulkan. Bagaimana dengan diksinya? “Korban/ganas/injak/aku/belum/marah” diksi-diksi pembangun puisi ini tetap biasa saja dan tetap sanggup menggambarkan sesuatu.


Korban kebohongan
Tipulah aku
Sebelum kusadar

Di sini, sebelum terjawab tentang “Korban keganasan” itu sudah dimunculkan symbol yang lain “Korban kebohongan” yang lagi-lagi bikin saya bertanya-tanya akan maksud symbol tersebut. Yang amat mendasar dan patut diajukan adalah, Mengapa korban yang seolah salah? Tentu belum usai penelusuran, sebaiknya tidak membuat kesimpulan. Mari kita urai kembali ada kata apa saja dalam bait ini. “Korban/bohong/tipu/aku/belum/sadar” dengan kata-kata seadanya itu, apakah yang dapat disampaikan? Tentu saja sampai di mata baca saya, bahwa masih juga bahkan kian meradang saja kemarahan itu. Bikin penasaran memang, mari lanjutkan!


Korban kebencian
Hinalah aku
Sebelum aku pergi

Pada bait ini masih juga menyulam kegeraman demi kegeraman yang bikin saya tambah penasaran juga tambah bertanya-tanya. Kali ini symbol yang dimunculkan adalah “Korban kebencian” larik “Hinalah aku” jadi sebuah tantangan yang benar-benar menantang, meski ada aroma pasrah, aroma geramnya jauh lebih kental dan bait ini pun bagi saya cukup berhasil memberi gambaran akan sebuah keadaan dan kenyataan. Diksinya? Mari temukan lagi! “Korban/Benci/Hina?Aku/Belum/Aku/Pergi” masih kata-kata biasa saja kan?


Januari
Itulah cerita negeri kami
Para penjilat lidah menari
Sebelum esok berganti Juni

Pada bait terakhir inilah akhirnya samar-samar saya temukan maksud, samar-samar? Bukankah diksi-diksi pembangun puisi ini biasa saja? Itulah hebatnya penyair, dari kata biasa masih sanggup menyimpan misteri. Pada bait terakhir terdapat sebuah kesimpulan bahwa si pembenci, pembohong, pengumpat, pendengki, pendendam, penipu dan sebagainya adalah si korban itu sendiri. Korban ketidaksanggupan mengemban amanah rakyat! Yang jadikan puisi ini misteri adalah larik terakhir “Sebelum juni”? ada apa dengan Juni? Rentang waktu yang cukup panjang sekitar empat bulan lagi baru menemu Juni. Semoga saja Deddy membuat puisi juni termaksud di atas itu. Agar dahaga keingintahuan saya terlepaskan.
.
Menelusuri puisi “Januari” dengan bahasa-bahasa yang amat biasa dengan memanfaatkan Makna leksikal yang kemudian dirubahnya dengan memanfaatkan makna gramatikan seperti “bodoh” menjadi “Kebodohan” dan sebagainya. Keinginan Deddy menyajikan sebuah hidangan yang lezat bagi penikmat puisi (Bahwa masih ada hal yang ganjil dan mengganjal di bumi pertiwi ini, dan sebagai pemuda Deddy wajarlah mengemukakan kemarahannya melaui puisi ini) dengan pola ucap yang apik bagi saya puisi ini telah selamat dan nikmat untuk disajikan. Di puisi ini saya hanya menemukan kata keseharian belum menemukan kata-kata baru dan semoga saya menemukan di puisi Deddy yang lain atau puisi penyair lainnya. Lantas apa lagi yang dapat saya katakan? Selain berseru pada diri sendiri dan berharap satu seruan dengan yang lain “Mari menggali dan menggali puisi hingga dalam sedalam-dalamnya!”
Demikianlah esai yang amat sederhana ini saya buatkan sebagai hadiah Ulang tahun Deddy Firtana Iman, walau cukup terlambat, lebih baik dari pada tidak sama sekali. Bertambah usia moga bertambah dewasa karya-karyanya. Sukses selalu!

Cilegon-Banten
24 Juni 2012

Sumber: Bengkel Puisi


Tuesday, 17 April 2012

SAAT PUISI MENJADI SAKSI DAN MEMBERI SOLUSI

oleh Muhammad Rois Rinaldi pada 17 April 2012 pukul 19:27

Apresiasi Puisi Karya : Deddy Firtana Ali_Banda Aceh.



Tak dapat ditampik bahwasanya dalam menulis puisi setiap penyair kerap terinspirasi oleh apa yang dilihat dan dirasakan, yang dalam teorinya disebut dengan unsur ekstrinsik. Bailah cukup sampai di sana karena saya tak cukup tertarik membahas unsur-unsur puisi tersebut akan tetapi baiknya mari kita menelaah bagaimana proses kelahiran sebuah puisi hingga memuisi dan menjadi saksi. Walau dalam benak saya selalu membayangkan adanya pergeseran pencapaian puisi yang lain selain yang ada pada hari ini sebagai tanda munculnya puisi yang benar-benar sebagai icon perpuisian masa kini.entah jika tidak hari ini esok atau nanti.

Sikap seorang penyair dalam menanggapi keadaan dapat dilihat dari karyanya masing-masing. Ada yang berdiri sebagai pembela yang mati-matian menjunjung tinggi kelompok atau orang yang dibela. Ada yang berdiri sebagai penentang yang tak segan-segan mengultimatum bahkan menghakimi orang atau kelompok yang ditentangnya dan ada yang memposisikan diri di antara keduanya.Ini adalah pilihan namun sebagai penyair yang baik semestinya tidak hanya bicara soal pembelaan atau bicara soal penentangan apa lagi bersikap plin-plan yang enggan menyentuh utuh aspek masalah yang ditulisnya. Melainkan memposisikan diri sebagai media mengayaan, media penyaringan yang sanggup mentransformasikan ide sebagai jalan keluar dari kebuntuan yang dihadapi kebanyakan orang.

Salah satu puisi Chiril Anwar contohnya dalam puisi “AKU” terdapat sebuah larik yang mungkin menurut sebagaian orang itu adalah sikap tak acuh Chairil terhadap keadaan, namun saya mentafsirkan lain. Dalam larik “Dan aku tak mau peduli, aku ingin hidup 100 tahun lagi” dalam larik pamungkas ini Chairil memberikan jawaban atas radang kejiwanan yang senantiasa diserang saban waktu. Ia tak peduli pada keadaan yang ada bukan berarti dia menjadi orang yang frustasi melainkan ia ingin menyatakan apa pun yang terjadi meski peluru menembus kulit, meski darah berkucuran meski apa pun yang terjadi dia takkan tumbang dan akan hidup seribu tahun lagi. Ini sebuah keoptimasan yang patut dijadikan cermin bagi penyair masa kini. Masalah pada akhirnya Chairil mati muda itu urusan lain, lantaran apa?

Lantaran penyair masa kin pun ternyata dihadapkan dalam keadaan yang tak jauh berbeda dengan keadaan yang dihadapi Chairil Anwar kala itu bahkan dewasa ini masalah yang ada jauh lebih kompleks dan jauh lebih mengerikan. Sehingga jangan heran jika bermunculan puisi-puisi beraorama kepasrahan, aroma keletihan atau bahkan aroma penyerahan habis-habisan pada keadaan yang ada, sebagaimana kita pahami bersama puisi akan menggambarkan keadaan jiwa penulisnya dan itu berarti penyair kita dihadapkan pada masalah kedirian yang tak cukup tangguh menghadapi keadaan. Kurangnya rasa percaya diri akan kemungkinan bawa hidup ini tidak melulu soal petaka.

Walau benar adanya bahwa hidup hari ini seperti dalam lingkaran api yang kapan saja dan siapa saja berkemungkinan terbakar dan hangus. Bagaimana tidak, dalam jajaran kepemimpinan bangsa sudah tidak dapat diandalkan kian hari kian sengkarut saja, dalam jajaran sosial masyarakat masing-masing kita mulai menumbuhsuburkan rasa curiga dan saling tidak percaya sehingga memunculkan manusia-manusia individualis yang enggan lagi banyak urusan dengan orang-orang yang tidak memberikan keuntungan dan lebih dari itu dunia pendidikan hari ini adalah dunia di mana kita bisa membeli nilai bagus dalam sebuah kedai sama seperti kita membeli makan dan minum. Tanpa berpikir bahwa setiap penerima ijazah adalah orang-orang yang sudah dicetak menjadi pecundang selanjutnya.

Seakan kita tak punya ruang untuk sekadar bertoleransi dan di sinilah mestinya penyair memposisikan diri sebagai penengah dari keadaan, memberikan solusi agar sama-sama dapat keluar dari kebuntuan. Salah satu puisi yang saya anggap telah berhasil memposisikan diri sebagai penengah keadaan adalah puisi Deddy Firtana Ali yang mampu menggambarkan keadaan tanpa harus memaki atau melucuti sesiapa, namun cukup menjadi saksi yang kemudian kesaksian ini akan sanggup menjadi bahan uji banding kedirian menuju kesadaran yang utuh. Berikut puisi tersebut :


Nyak Maneh

Mimpinya tak banyak
Untuk membahagiakan orang-orang
yang terkasih dalam linangan air matanya

Pakaian usang
Memakai topi jerami
Sandal jepit
Keranjang sampah
dan mulai berjalan lurus ke depan
Sambil mewaspadai gerak-gerik angin
Menemani disetiap langkah kakinya

Napasmu
Melaju bayang-bayang semu
Mengukir pejanggal perut
Mengalir disetiap gerakan tangannya
Kakinya yang halus
Dan tubuhnya yang kurus

Tak pernah lelah mengais rezeki
Di dalam setumpuk sampah
Penuh dengan bau busuk
Dan berbagai penyakit
Tak mengusiknya untuk berhenti

Hidup ini bagaikan anak tiri
Dalam tangisan tak berujung

Tak ingin seperti itu
Maka dia memahaminya
Matanya gesit
Tanganya cekatan
Ada kaleng, botol plastik
Dan semuanya bisa dijual
Dikumpulkan dalam keranjang sampahnya
Untuk sesuap nasi di hari ini

Selayang pandang butiran keringatnya
Telah mengalir membasahi tubuhnya
Istirahatnya hanya diam sejenak
Menegak segelas air dan melanjutkannya
Mengejar waktu yang tak pernah berhenti

Hidup ini mengalir
Seperti air yang deras
Menyapu setiap manusia yang lemah

Untuk menghasilkan sesuap nasi
Surga bagimu wahai Nyak Maneh
Bersama senja menjemputnya pulang
Kepangkuan suami dan anak-anakmu


2010

Inilah wajah yang ditampilkan Deddy “Nyak Maneh” yang berarti “Nenek yang Cantik” pola pengungkapan keadaan yang diusung sangat cantik karena selain sanggup menggambarkan kehidupan yang amat sulit di mana dalam zaman modern ini selalu saja ada ruang tempat orang-orang terpinggir dan terlupakan, Deddy pun sanggup memberikan seolusi tersirat dalam puisi tersebut. Bahwa hidup tidak untuk meratap dan berharap akan tetapi hidup adalah memulai harapan dengan berbuat apa yang dimampu dan pada apa yang dipunya serta merasakan sekejam apa pun hidup masih ada orang-orang terkasih yang mendampingi. Good Job! Mari menikmati puisi lezat ini.


Mimpinya tak banyak
Untuk membahagiakan orang-orang
yang terkasih dalam linangan air matanya
Pakaian usang
Memakai topi jerami
Sandal jepit
Keranjang sampah
dan mulai berjalan lurus ke depan
Sambil mewaspadai gerak-gerik angin
Menemani disetiap langkah kakinya

Di antara kita mungkin ada yang terlampau banyak bermimpi.sehingga lupa akan kesanggupan langkah kaki. Pernah saya berhadapan dengan seorang kawan yang begitu intens berbicara soal keadaan orang baduy yang menurutnya sangat memprihatinkan dimulai dari gaya hidup yang masih tertinggal sampai hal-hal yang prinsipil yakni orang baduy enggan mengejar ketertinggalan, enggan bermimpi untuk punya gedung bertingkat, punya mobil mewah dan kehidupan yang layak. Lantas saya bertanya “Apa gerangan definisi hidup layak itu?” dengan tegas kawanku menjawab bahwa hidup layak adalah sanggup mengikuti perkembangan zaman, menjadi orang yang sanggup mengalahkan tantangan dan jadi pemenang.

Sedangkan saya tahu benar kerap kawanku itu mengeluh bahwa hidup teramat sulit dan melilit sedangkan beberapa kali saya pergi ke baduy dan menanyakan akan keadan dan keinginan mereka untuk kehidupan ini, ternyata tak sedikit pun keluh saya dengar walau harus naik turun gunung senyata-nyatanya mereka merasa nyaman dengan apa yang dilakukan dalam keseharian, lantas sebenarnya yang patut dikasihani siapa? Tentu kawanku dan mungkin aku yang patut dikasihani lantaran setiap hari dikejar-kejar keinginan yang sebenarnya membuat jiwa terguncang dan hidup menjadi tak tenang. Begitu pun Nyak Maneh dalam puisi ini, tak banyak mimpinya hanya untuk membahagiakan orang-orang yang terkasih. Walau kata “dalam linangan airmata” sedikit mengganggu, namun saya mencoba mentafsirkan bahwa dalam linangan airmata tersebut menyatakan bahwa dalam perih pedih hidup Nyak Maneh ingin menghadiahkan setangkup kebahagiaan. Dalam keadan seadanya dan mencari nafkah dari apa yang ada terus membaca gelagat alam. Bahwa hidup ini memang butuh kecerdikan melihat ruang untuk menyambung napas.

Napasmu
Melaju bayang-bayang semu
Mengukir pejanggal perut
Mengalir disetiap gerakan tangannya
Kakinya yang halus
Dan tubuhnya yang kurus
Tak pernah lelah mengais rezeki
Di dalam setumpuk sampah
Penuh dengan bau busuk
Dan berbagai penyakit
Tak mengusiknya untuk berhenti

Di sini Deddy memberikan gambaran tentang wujud Nyak Maneh “Nenek yang cantik” itu. Selain menggambarkan wujud dapat pula ditangkap gambaran tentang sebuah keadaan yang boleh dikata miris atau mengagumkan, yakni Nyak Maneh bagaimana pun cantiknya ia adalah wanita tua yang mulai digerogoti penyakit dan itu tidak sedikit pun membuat semangat Nyak Maneh surut untuk mengais rizki Tuhan yang bertebaran di muka bumi.

Diksi yang disematkan mengisyaratkan bahwa Nyak Maneh berada di antara deru kemajuan yang menawarkan kehidupan yang makmur namun pada nyatanya ia tetap berurusan dengan sampah dan dari sampahlah ia mengenal kehidupan, bukan gedung-gedung bertingkat.


Hidup ini bagaikan anak tiri
Dalam tangisan tak berujung

Pada bait yang berisi dua larik ini Deddy mengabarkan bahwa hidup ini memang seperti anak tiri yang didera siksa dan airmata tak jua memberikan batas masa akan akhir derita.

Bahwa boleh jadi benar adanya bagi orang-orang yang tersingkirkan dari kemajuan bahwa hidup tersingkir dan terpinggirkan serupa saja dengan anak tiri yang dijadikan bulan-bulanan sang ibunda “TIRI!”

Tak ingin seperti itu
Maka dia memahaminya
Matanya gesit
Tanganya cekatan
Ada kaleng, botol plastik
Dan semuanya bisa dijual
Dikumpulkan dalam keranjang sampahnya
Untuk sesuap nasi di hari ini

Selanjutnya kembali Deddy memberikan solusi bahwa tak ada manfaatnya menangisi keadaan, melalui Nyak Maneh ia mengisahkan betapa wanita renta yang masih cantik itu enggan lagi merayu parau, enggan lagi meratap derap, Nyak Maneh amat memahami keadaan dengan bijak. Kegesitannya dalam melihat sampah-sampah dan mengumpulkannya dalam keranjang adalah sebuah kesadaran yang diperlukan hari ini adalah sesuap nasi bukan tangisan!

Selayang pandang butiran keringatnya
Telah mengalir membasahi tubuhnya
Istirahatnya hanya diam sejenak
Menegak segelas air dan melanjutkannya
Mengejar waktu yang tak pernah berhenti

Pada bait di atas ada ruang rehat pembaca, dan ruang rehat bagi Nyak Maneh di saat lelah mulai menggelayuti selalu saja ada saat berhenti untuk kembali berjalan menapaki bumi-Nya.

Hidup ini mengalir
Seperti air yang deras
Menyapu setiap manusia yang lemah

“Hidup ini mengalir” larik tersebut menerang jelaskan bahwa sebenarnya tidak ada yang menggemparkan atau mengesankan dalam hidup fana ini, sama seperti aliran air. Sangat biasa saja. Sayangnya masing-masing kita kerap bersikap berlebihan terhadap apa yang dihadapi, jika luka erangannya melebihi luka itu sendiri jika sedang bahagisa tertawanya tak henti-henti dan jika mendapatkan sebuah prestasi bangganya “Gak abis-abis!” hidup ini mengalir sajalah tak usah berlebihan! “Seperti air yang deras” larik ini sedikit berlawanan dengan larik awal namun ini boleh disebut loncatan imaji dan ini sah-sah saja. Toh masih ada korelasi antara larik awal kedua dan ketiga pada bait tersebut. Yang jika ditarik benang merahnya dapat diartikan bahwasanya hidup ini adalah aliran yang berjalan sebagaimana adanya, ada kalanya tenang, ada kalanya bergelombang bahkan ada kalanya berombak besar dan bisa menghanyutkan.


Untuk menghasilkan sesuap nasi
Surga bagimu wahai Nyak Maneh
Bersama senja menjemputnya pulang
Kepangkuan suami dan anak-anakmu

Akhirnya pada bait pamungkas Deddy menyatakan kekaguman serta doa tulus untuknya. Setelah hari merangkak senja seiring langkah kaki pulang Nyak Maneh Deddy meminta surga pada Tuhan untuk ketangguhan serta ketulusan Nyak Maneh. Sementara surga itu telah tersedia bersama keluarga tersayang.

Saya sangat mengapresiasi positif puisi Deddy ini karena telah sanggup memberikan gambaran sekaligus solusi dalam menghadapi masalah-masalah hidup yang ada. Good Job! Terus berkarya, kawan.


Sumber tulisan: Saat Puisi Menjadi Saksi dan Memberi Solusi