Sunday, 29 August 2010
Renungan Malam
Kau telah menyingsut kedinginan
betapa kenestapaan itu terjalin sepi
menandakan bintang-bintang kian
tersenyum melihat bulan di dekat
landasan perbaringan mengapai takdir
mimpi
tiada kata untuk mengucapkan salam
perpisahan
di antara bayangan kerinduan untukmu
sebelum mengapai pagi
(Agustus 2010)
Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 29 Agustus, 2010
Sunday, 25 July 2010
Sempurna Terdiam Sepi
hamparan pasir di pantai
Berjalanlah
memakai alam pikiran kesegaran hati
Jangan berhenti
penyesalan menghantui dirimu
dan tetap berjalan
Rasakanlah air asinnya
basuhlah kedua tanganmu
dan rasakan kesempurnaan
tanpa terdiam sepi
karena angin menemanimu
disetiap langkah kakimu
2010
Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 25 July 2010
Sunday, 9 May 2010
Tak Ingin Usai
masih menyisakan waktu
bermanja pada wujudmu
Tak ingin usai
walaupun kusudahi
kesempatan untuk menemui
disetiap jarak isi hati
dengan segalagala hari
hingga kuakui
Aku tak ingin usai
dicintai dan dimengerti
oleh sebuah hati
dari dirimu sendiri
2010
Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 09 Mei, 2010
Sunday, 25 April 2010
Ayah
Doakanlah untuknya
yang telah membesarkanmu
walaupun wujudmu
menangisi kepergianya
Kusadari
semuanya tiada yang abadi
walaupun kita berdiri
di tepian waktu sekian hari
Dan hari ini
aku juga mendoakanmu
dan Ayahmu juga
Amin
2010
Minggu, 25 April 2010
Puisi ini kupersembahkan untuk berpulang ke rahmatullah, Ayahanda dari sahabatku T Arizona. Semoga segala amalan ibadah Beliau diterima oleh Allah SWT, dan segala kesalahannya diampuni oleh Allah SWT, serta T Arizona beserta seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan. Amin ya Rabbal Alamin.
Sunday, 18 April 2010
Puisi Jaga Malam
Malam dingin
aku melamun tentang kesepian kota
terhenti dengan neon perkampungan sudut
kota
apa ada gerangan menjerit duka
dengan berpura-pura mabuk di dekatku
melirikku dengan untaian lagu kesepian
Inilah kota juang
yang dibicarakan orang-orang dungu
tentang pejuang yang gagal
tanpa ada cacat sedikitpun
melarikan diri dari kepungan kematian.
Cahaya inilah buktinya,
terus-menerus melirik jawaban kebena-
ran,
tentang hilangya prajurit kami.
2009
Minggu, 18 April 2010
Monday, 12 April 2010
Air Mata Ibu
Ibu mengayuh tangan
menghajar batu kekal
di tepi gunung yang jurangya memikat
kematian
Pulang-pulang
tanganya berlumuran darah
baju basah kuyub
segoni batu-batu telah didapatnya
dengan perasaan yang galau
penuh tanda tanya yang mengherankan
“untuk apa kita hidup
hanya berbekal penipuan yang angkuh
sirna dihapus hujan
tidak abadi di hinggap matahari”
Kami semuanya terdiam
mendengar jerit hatinya
mulai mengeluarkan air batu
dari bola matanya yang resah
aku pikirkan jerit hatinya
tentu saja tapak tanganya
tiada berhenti untuk bekerja
memenuhi kebutuhan kami
hingga Ibu meninggal dirintih kesakitan
oleh hidup melarat kemiskinan
(2009)
*Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 11 April 2010
Sunday, 4 April 2010
Isyarat Kematian
Karya: Deddy Firtana Iman
Usiaku
mulai meninggi
dusta nestapa melingkar leher
Ribuan keji munafik tercipta
agama terlupakan
Malaikat mulai mendekat
memperlihat senjata
wujudku membisu
Iblis dan setan-setan mulai tersenyum
Memiliki teman dikemudian harinya
Isyarat kematian untukku
Inilah
aku, lelaki pendusta itu
yang engkau cari
yang selama ini membunuhmu
dan tataplah wajahku
*Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 04 April 2010
Sunday, 24 January 2010
Limit Kepalsuan
Hari ini kejahatan penguasa telah tertunda
Pada limit janji-janji mereka
Dan segelintir orang-orang
Mulai memaku tatapan beringas mereka
Pada jabatan terkutuk itu.
Kesekian kalinya
Kita tertipu dengan mukadimah
Kebahagiaan mereka
Dan kita di sini
Dengan luka tercabik pada luka yang baru
Ini kisah hidup kami
Apakah tuan begitu!
2009
Dimuat di http://situseni.com/?p=Index&r=D&idpost=424&id=Deddy%20Firtana%20Iman