Saturday, 2 August 2014
Lhok Keutapang
Awal tahun baru 2013. Foto sepenuhnya diambil dari Amien Dayat. Terima kasih kawan untuk dokumentasi yang sangat istimewa ini.
Semoga jika ada waktu luang, kita singgah lagi ke Lhok Keutapang dengan semangat baru dan kenangan yang baru.
Sunday, 26 January 2014
Politik Kakus
Politik
Kakus
Karya Deddy Firtana Iman
bayangan tubuh bersemedi
di tempat kesunyian, menyinggahi
kemauan untuk berharap lebih
terampil mengudara kata-kata
atau sebatang kretek lelah
mengepulkan asap ke udara.
di tempat kesunyian, menyinggahi
kemauan untuk berharap lebih
terampil mengudara kata-kata
atau sebatang kretek lelah
mengepulkan asap ke udara.
perahu layar merapat di kesunyain
menyapa lesu, penuh bimbang durjana
menebar sendi lelah berjongkok.
“kau hanya wajah, slogan dan baliho dungu
singgahlah di lubang peradaban lain!”
air semakin jauh membawanya pergi
menyapa lesu, penuh bimbang durjana
menebar sendi lelah berjongkok.
“kau hanya wajah, slogan dan baliho dungu
singgahlah di lubang peradaban lain!”
air semakin jauh membawanya pergi
kain telah memuncak mengibarkan lelah
wajah bisu tersenyum meninggalkan kengiluan.
wajah bisu tersenyum meninggalkan kengiluan.
2013
Sumber : Serambi Indonesia
Minggu, 26 Januari 2014
Wajah
Wajah
Karya Deddy Firtana Iman
Kesadaranku merajut bayangan di pantai
Memutih, mengalun ombak tepian ketenangan
Dan aku menatap kecerian burung bangau
Pada detik kesejukan mengalun malam
Mabuk karena wujudmu membayangi
Secangkir kopi di atas meja
Hitam, empat kaki bersemi foto
Menyatu dan muncul di malam ini
Adalah wujudmu yang sesungguhnya
2013
Memutih, mengalun ombak tepian ketenangan
Dan aku menatap kecerian burung bangau
Pada detik kesejukan mengalun malam
Mabuk karena wujudmu membayangi
Secangkir kopi di atas meja
Hitam, empat kaki bersemi foto
Menyatu dan muncul di malam ini
Adalah wujudmu yang sesungguhnya
2013
* Deddy Firtana Iman, bergiat di Komunitas Kanot
Bu.
Sumber : Serambi Indonesia
Minggu, 26 Januari 2014
Thursday, 2 January 2014
Kalender Ingatan dan Pemilu
Orang lain selain aku tidak akan mengunyah kata-kata selain percakapan hambar. Sebut saja mie instan, tinggal kau seduh air panas lalu hidangkan sesuka hati tanpa menutup hidung kalau-kalau disengat bumbu penyedap rasa. Bercabang tiga, ususmu akan saling bertanya untuk mengenal lampu merah dan tanda-tanda rambu lalu lintas yang segera menutupi kegagalan untuk berhenti. Hanya kegagalanlah sebagai pernyataan bahwa pintu rumahku telah kuketuk bersama kehadiran kupu-kupu di kursi halaman rumahmu.
Kalender di kamarku telah banyak menyimpan rumus-rumus jamuan makan malam. Tentang pemilu yang kau anggap daftar hadir. Menyatakan kita masih dianggap manusia.
"Maaf, jika membuatmu bersandar sambil melukiskan sepasang merpati tua yang bertengger di dahan pohon mangga." Teguran halus, bahwa aku siap untuk pergi jauh. Menyelinap masuk ke lorong ingatanmu.
Saturday, 7 December 2013
Jarum Suntik
Jarum Suntik
Karya Deddy Firtana Iman
setiap lelap terhenti dingin
aroma tabir kata, dekat,
kusut membentuk ketakutan
resah takdir sajak biru.
berbisik lorong manja kepada daun
gugur selaksa malu mengungkapkan
“maaf, anakmu tak tertolong!”
karena takut tertular rasa sakit
serupa di badan, ingatan recehan
di bawah bantal gulingmu.
2013
Deddy Firtana Iman, bergiat di Komunitas Kanot Bu.
Sumber: Serambi Indonesia
Rayuan Batu
Rayuan Batu
Karya Deddy Firtana Iman
tak ada yang mesti
ditunggu. bendera partai akan
menjamah setiap dinding toko,
trotoar, baliho, hingga pada tiang lampu
penerang jalan di malam hari.
sesekali anak-anak iseng melubangi
selebaran poster mereka. entah itu rambut,
mata, kumis atau jenggotnya. agar terlihat
seperti bajak laut yang disiarkan di televisi
sehabis ngompol untuk yang kesekian kalinya.
2013
Deddy Firtana Iman, bergiat di Komunitas Kanot Bu.
Sumber: Serambi Indonesia
Saturday, 24 August 2013
Nyanyian Tanah Air
Nyanyian
Tanah Air
Karya
Deddy Firtana Iman
Perjuangan belum berakhir
hidup atau mati masih menangisi
ratapan kehidupan anak pelangi
di bawah jembatan gantung.
Getaran tanah telah menghempaskan
gelombang syair iringan bendera
di simpang lima bersama kelelahan.
Tanah dan air telah melepuh
menjadi kenangan kuburan massal
di akhir tahun yang lalu.
Dan hanya nyanyian kosong
melepas rindu di bulan Agustus
2013
* Deddy Firtana Iman, bergiat di Komunitas Kanot Bu.
Sumber Serambi Indonesia
Minggu, 25 Agustus 2013
Perjuangan belum berakhir
hidup atau mati masih menangisi
ratapan kehidupan anak pelangi
di bawah jembatan gantung.
Getaran tanah telah menghempaskan
gelombang syair iringan bendera
di simpang lima bersama kelelahan.
Tanah dan air telah melepuh
menjadi kenangan kuburan massal
di akhir tahun yang lalu.
Dan hanya nyanyian kosong
melepas rindu di bulan Agustus
2013
* Deddy Firtana Iman, bergiat di Komunitas Kanot Bu.
Sumber Serambi Indonesia
Minggu, 25 Agustus 2013
Tak mampu bayar penerbit, ini buku kami terbitkan sendiri
Tak mampu bayar penerbit, ini buku kami terbitkan sendiri
![]() |
| Menerka Gerak-Gerik Angin @Herman RN |
HEMBUSAN
bayu dan suhu terik tak mampu mengalahkan semangat beberapa anak muda di Taman
Sari Banda Aceh. Mereka sedang menikmati pagelaran Piasan Seni 2013 Kota Banda
Aceh, yang berlangsung 21-24 Agustus 2013.
Beberapa
lelaki sedang berkumpul santai pada stan masing-masing. Ada yang sedang memetik
gitar, ada yang sibuk membereskan asesoris stannya. Seorang lelaki asyik
menabuh genderang di barisan stan Sastra. Tampak pula beberapa lelaki lain
sedang golek-golek di ruang 9 x 3 meter itu.
Stan
itu mestinya 3 x 3 meter. Hanya saja, ada tiga komunitas sastra yang membuka
tabir stan mereka sehingga stan itu tampak panjang, bersatu mejadi 9 meter. Ada
Komunitas Jeuneurop, Komunitas Kanot Bu, dan Forum Sastra Kedai Kopi.
“Kami
sepakat tidak menyekat stan kami seperti stan orang lain. Ini sastra.
Orang-orang sastra harus bersatu,” ujar Idrus dari Komunitas Kanot Bu.
Bagian
depan setiap stan terpajang sejumlah buku. Pada stan Komunitas Jeuneurop ada
buku Negeri dalam Sepatu. Buku yang diterbitkan oleh Bandar Publishing itu
ditulis oleh Zahra Nurul Liza, dkk.
Yang
lebih menarik adalah buku-buku yang terpajang pada halaman stan Kanot Bu. Di
sana ada Sang Sui kumpulan sajak Idrus bin Harun, Reza Mustafa, Fuadi Syukri,
Edi Miswar. Ada juga Setelah Putera Mahkota Dipancung kumpulan cerpen Edi
Miswar, Menerka Gerak-Gerik Angin puisi Deddy Firtana Iman, Risalah Waroeng
Kopi esai Reza Mustafa dan Idrus bin Harun.
Yang
membuat buku-buku itu menarik adalah perkara penerbit. Buku itu mereka
terbitkan secara indie dengan kertas kuarto yang sudah “dipotong” seukuran B5.
Nama penerbitnya juga unik, tansopakoPRESS. Jika dimaknai kosa kata Aceh itu
kurang lebih ‘Tak ada yang peduli PRESS’.
Buku-buku
itu sudah mereka terbitkan sejak dua tahun terakhir. Pengakuan anggota
Komunitas Kanot Bu, mereka sengaja mencetak buku itu alakadar dengan jumlah
yang alakadar pula karena tersangkut dengan dana cetak.
“Kami
tak mampu membayar penerbit, maka kami ceta
k sendiri,” ujar Deddy Firtana Iman.
Tahun
2013 ini, Kanot Bu dengan tansopakoPRESS-nya menerbitkan dua buku lagi. Buku
itu berjudul Perempuan Aroma Hujan puisi Cut Dini Desita dan Hikayatul Hisbah
kumpulan hikayat Fuady, Reza Azhar, Idrus bin Harun.
Lagi-lagi
mereka hanya menggunakan jasa fotokopi dan mereka jilid buku-buku itu seadanya
pada percetakan lepas. Itu semua terpaksa mereka lakukan, karena mereka belum
mampu membayar penerbit.
“Kami
merasa bertanggung jawab mengisi kekosongan buku-buku di Aceh, maka kami
berusaha menerbitkan karya-karya kami. Kelihatannya memang seperti main-main,
tapi kami sungguh-sungguh. Hanya saja, inilah kemampuan kami,” tutur Fuady.
Saat
disinggung soal ISBN, menurut Fuady, tak ada hukum di negeri ini yang melarang
orang menerbitkan buku hanya karena tak ada ISBN. “Biaya cetak fotokopi saja
kami rogoh dari kantong sendiri. Kami jual buku ini dengan murah hanya untuk
mengganti harga cetak. Dengan percetakan seadanya begini, bagaimana mungkin
kami cetak pakai ISBN segala?” katanya.
Harga
buku-buku mereka semua dibandrol Rp25 ribu per buku, untuk semua judul dan
genre. Kata Fuady, mereka sudah merasa puas dan nikmat tatkala ada anak-anak
Aceh yang mau membaca buku-buku tersebut.
“Soal
kualitas karya, insya Allah kami tidak main-main. Sebagian besar karya dalam
buku-buku kami adalah karya-karya kami yang sudah dipublikasi pada beberapa
media. Mungkin kelemahan kami hanya soal belum mampu membayar penerbit,” papar
alumnus Gelanggang Mahasiswa dan Satra Indonesia (Gemasastrin) FKIP Unsyiah
itu.
Dalam
anggapan Deddy dan kawan-kawan, menerbitkan buku zaman sekarang sudah beda
dengan zaman dulu. Jika dulu, penulis dapat bayaran dari penerbit, sekarang
malah penulis yang harus bayar penerbit.
Namun,
tambah Deddy, ini tak berlaku pada semua penerbit. “Beberapa penerbit masih ada
yang profesional, mereka bayar penulis. Hanya saja, sebagian penerbit harus
kita bayar kalau mau karya kita diterbitkan,” ujar Deddy, mahasiswa angkatan
2006 FKIP Unsyiah yang akan wisuda akhir bulan ini.[]
Herman
RN
Sumber Atjeh Post
Friday, 2 August 2013
Penggalian Kesan Puitik Dari Kata Biasa Jadi Tak Biasa Di "Januari" Deddy Firtana Iman
Karya Muhammad Rois Rinaldi
Tidak lain tidak bukan, jadi penyair adalah kecelakaan besar! penyair-penyair adalah mereka yang setiap harinya dibuat gelisah dan susah, tak jarang sampai mendesah lelah namun enggan juga menyerah. Seorang penyair setiap harinya akan berkutat pada kata dan kata yang kemudian diolah dalam rasa dengan berbagai bumbu khas sehingga disajikan di meja pembaca atau boleh jadi hanya dibiarkan tertutup tudung saji, namun tentu bukan jadi pilihan jika puisi dibiarkan basi kan?
Karya sastra (puisi) baik liris, imajis dan sebagainya merupakan buah karya dari pengamatan, pendalaman, pemahaman, dari keadan-keadaan yang dilihat olah kasat mata baik dirasakan sendiri atau menimpa orang di sekitar atau bahkan melihat berita di televise dan sebagainya. Dan boleh jadi juga buah perjalanan kebatinan yang amat mengesankan sehingga patut untuk diabadikan dalam puisi. Segalanya boleh jadi, sinyal-sinyal mampu merangsang hati terdalam untuk merangkai kata-kata demi meluapkan isi hati seutuhnya. Di sinilah ruang masak dengan dapur dan bumbu khas itu berada, tergantung pada tebal tipisnya dinding-dinding perasaan, dan juga pengalaman-pengalaman kebatinan yang dimiliki. Lantas bagaimana dengan proses pemilihan kata (diksi)? Yang tujuannya adalah untuk memberikan kebaruan menu yang tentunya baik, sehat dan bergizi serta bermanfaat bagi para pembaca.
Dengan berlandaskan kegelisahan demi kegelisahan akan proses kretivitas kepenulisan inilah yang membuat para penyair, terutama yang masih berjiwa muda melakukan penggalian-penggalian kesan puitik pada kata-kata yang biasa digunakan dalam bahasa keseharian atau pun pada kata-kata yang asing sama sekali di kuping. Banyak sekali kemungkinan penggalian, yang jadi penghalang adalah keberanian penyair itu sendiri untuk mendobrak konvensi demi menemukan konvensi. Karena diakui atau tidak penyair adalah pengikut dan pembuat konvensi!
Begitu pun dengan Deddy Firtana Iman , kelahiran Banda Aceh 21 Juni 1986. Penerima pendidikan setelah di SMA Negeri Banda Aceh lantas lanjut ke FKIP UNSYIAH Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia ini, rupanya tengah menggali kesan-kesan puitik dari rentetan kata keseharian. Dan inilah yang akan memperkaya kazanah Bahasa Indonesia juga kazanah kesusastraan Indonesia. Jadi ingat si Rumput Bergoyang (Ebit G Ade) Kepada Pemeluk Teguh (Chairil Anwar) dan kata-kata lainnya yang jadi amat melekat pada kedirian ucap penyairnya. Ya! Amat diperlukan dan boleh jadi ini serupa himbauan tanpa abai pada bahasa yang telah ada sebelumnya, penyair masa kini semestinya mencari dan terus menggali kemungkinan-kemungkinan dari kata-kata yang setiap harinya berseliweran tak usah mencari yang aneh-aneh selalu, cukup yang sederhana demi memperdalam kesan puitik dalam karya-karyanya. Dan tentu yang tidak kalah pentingnya adalah mempertajam kepekaan diri akan realita dan mimpi serta seluruh dekor-dekor keberadaan Robb, Manusia, dan alam semesta ini.
Apakah benar Deddy tengah menggali kesan puitik dari kata-kata keseharian? Agar dapat mejawab pertanyaan ini, mari kita telusuri puisi berjudul “Januari”
Januari
Karya: Deddy Firtana Iman
Korban kekerasan
Tikamlah aku
Sebelum saatnya
Korban keganasan
Injaklah aku
Sebelum kumarah
Korban kebohongan
Tipulah aku
Sebelum kusadar
Korban kebencian
Hinalah aku
Sebelum aku pergi
Januari
Itulah cerita negeri kami
Para penjilat lidah menari
Sebelum esok berganti Juni
2009
Dimuat di majalah "Lensa Unmuha" edisi VI/Maret 2009
Dengan memberi judul puisi “Januari” konsekuensinya adalah pada awal pembacaan tentu yang tertangkap adalah sebuah bulan antara dua belas bulan lainnya, yakni Januari (saja) daya tariknya akan sedikit kurang, namun akan lain hal jika ditelisik dari ruang konotatifnya atau makna yang tidak sebenarnya. Bulan Januari bisa saja berisikan rangkuman perjalanan hidup, gambaran sebongkah luka, wajah kekasih, wajah lawan dan kawan dan Hujan, Badai, Kematian, banyak hal yang bisa ditemukan dalam satu bulan saja. Lantas dalam puisi ini apakah yang terjadi dengan januari dan apakah korelasinya dengan penggalian kesan puitik pada kata-kata keseharian? Mari lanjutkan penelusuran!
Korban kekerasan
Tikamlah aku
Sebelum saatnya
Pada bait pembuka, dapat dirasakan sebentuk kegeraman yang sebegitu garang. Dan di sana hanya ada kata-kata yang amat biasa saja kan? Tapi dengan bahasa sederhana bisa menghadirkan hentakan yang cukup menggetarkan relung pembaca, di sini masih meninggalkan tanda tanya, ada apa dengan “Korban kekerasan”? Mengapa harus menikam “Sebelum waktunya”?
Korban keganasan
Injaklah aku
Sebelum kumarah
Pada bait kedua masih dengan pola yang sama, “Korban keganasan” masih belum ditemukan dan kemarahan masih menderu jeram serta keterangan “Sebelum kumarah” menjadi penjelasan, paling tidak sedikit jelas apa maksud “Sebelum waktunya” di bait pertama. Dan belum saatnya menyimpulkan. Bagaimana dengan diksinya? “Korban/ganas/injak/aku/belum/marah” diksi-diksi pembangun puisi ini tetap biasa saja dan tetap sanggup menggambarkan sesuatu.
Korban kebohongan
Tipulah aku
Sebelum kusadar
Di sini, sebelum terjawab tentang “Korban keganasan” itu sudah dimunculkan symbol yang lain “Korban kebohongan” yang lagi-lagi bikin saya bertanya-tanya akan maksud symbol tersebut. Yang amat mendasar dan patut diajukan adalah, Mengapa korban yang seolah salah? Tentu belum usai penelusuran, sebaiknya tidak membuat kesimpulan. Mari kita urai kembali ada kata apa saja dalam bait ini. “Korban/bohong/tipu/aku/belum/sadar” dengan kata-kata seadanya itu, apakah yang dapat disampaikan? Tentu saja sampai di mata baca saya, bahwa masih juga bahkan kian meradang saja kemarahan itu. Bikin penasaran memang, mari lanjutkan!
Korban kebencian
Hinalah aku
Sebelum aku pergi
Pada bait ini masih juga menyulam kegeraman demi kegeraman yang bikin saya tambah penasaran juga tambah bertanya-tanya. Kali ini symbol yang dimunculkan adalah “Korban kebencian” larik “Hinalah aku” jadi sebuah tantangan yang benar-benar menantang, meski ada aroma pasrah, aroma geramnya jauh lebih kental dan bait ini pun bagi saya cukup berhasil memberi gambaran akan sebuah keadaan dan kenyataan. Diksinya? Mari temukan lagi! “Korban/Benci/Hina?Aku/Belum/Aku/Pergi” masih kata-kata biasa saja kan?
Januari
Itulah cerita negeri kami
Para penjilat lidah menari
Sebelum esok berganti Juni
Pada bait terakhir inilah akhirnya samar-samar saya temukan maksud, samar-samar? Bukankah diksi-diksi pembangun puisi ini biasa saja? Itulah hebatnya penyair, dari kata biasa masih sanggup menyimpan misteri. Pada bait terakhir terdapat sebuah kesimpulan bahwa si pembenci, pembohong, pengumpat, pendengki, pendendam, penipu dan sebagainya adalah si korban itu sendiri. Korban ketidaksanggupan mengemban amanah rakyat! Yang jadikan puisi ini misteri adalah larik terakhir “Sebelum juni”? ada apa dengan Juni? Rentang waktu yang cukup panjang sekitar empat bulan lagi baru menemu Juni. Semoga saja Deddy membuat puisi juni termaksud di atas itu. Agar dahaga keingintahuan saya terlepaskan.
.
Menelusuri puisi “Januari” dengan bahasa-bahasa yang amat biasa dengan memanfaatkan Makna leksikal yang kemudian dirubahnya dengan memanfaatkan makna gramatikan seperti “bodoh” menjadi “Kebodohan” dan sebagainya. Keinginan Deddy menyajikan sebuah hidangan yang lezat bagi penikmat puisi (Bahwa masih ada hal yang ganjil dan mengganjal di bumi pertiwi ini, dan sebagai pemuda Deddy wajarlah mengemukakan kemarahannya melaui puisi ini) dengan pola ucap yang apik bagi saya puisi ini telah selamat dan nikmat untuk disajikan. Di puisi ini saya hanya menemukan kata keseharian belum menemukan kata-kata baru dan semoga saya menemukan di puisi Deddy yang lain atau puisi penyair lainnya. Lantas apa lagi yang dapat saya katakan? Selain berseru pada diri sendiri dan berharap satu seruan dengan yang lain “Mari menggali dan menggali puisi hingga dalam sedalam-dalamnya!”
Demikianlah esai yang amat sederhana ini saya buatkan sebagai hadiah Ulang tahun Deddy Firtana Iman, walau cukup terlambat, lebih baik dari pada tidak sama sekali. Bertambah usia moga bertambah dewasa karya-karyanya. Sukses selalu!
Cilegon-Banten
24 Juni 2012
Sumber: Bengkel Puisi
Subscribe to:
Posts (Atom)




