Beranda Judul

Wednesday, 26 June 2013

Sarjana itu adalah Puisi gagal tamat, Oom! oleh Idrus Bin Harun

brojoe!
kata yang tepat untuk menggambarkan hati riang ini kali adalah berpuisi. berpuisi dengan bahasa-bahasa pasaran. berpuisilah! mungkin tentang magrib yang gagal direnggut penyair jalanan. atau tentang pasar kumuh yang pernah mendominasi pikiran kita saat nilai alat tukar anjlok, gara-gara presiden di negerimu menaikkan BBM. Puisi adalah got peradaban. tempat sentimentasi kita layarkan. tempat sebagian orang kehilangan kemerdekaannya karena terlalu memaksakan diri demi mencapai 'orgasme artistik' (ingat! ini kata bombastik yang paling sering kita gunakan untuk menggambarkan diri nyeleneh).

kemarin, saat engkau masih jadi jagoan kampus dan kantin itu menjadi tempat terindah meludah otoritas Universitas, dunia memandangmu dengan sinisme ala feodal. dunia memang ribet beradaptasi dengan tukang jalan kaki macam kau. situkang pangkas yang tau benar sifat kemayu remaja-remaja yang ingin terlihat seperti idola mereka di televisi. faham sekali dengan street punk ikut-ikutan. semua itu adalah pelajaran berbahasa paling realis.

makna hidup ada di tempat kita mencetak rupiah, Brojoe! kuliah atau tidak, kita tetap akan dilontarkan ke sana. ke hiruk pikuk abang becak, denting gelas di warung kopi saat tukang cuci bekerja hingga ke pasar ikan Peunayong dengan bau amisnya yang romantis. semuanya akan berteduh di tempat terindah. tempat mereka dihargai dengan lembaran-lembaran uang. uang hanyalah bahasa sederhana yang kadangkala sanggup 'me-wassalamu-kan' puisi-puisi penyair kita.

ah..payah benar hanya untuk mengucapkan selamat atas gelar kesarjanaanmu yang paling membahagiakan itu. semoga ilmu itu dapat dibagi-bagi, dan mengajak orang ke jalan benar. selamat menempuh gelar! meskipun dalam kegalauan sosial dewasa ini, secarik kertas itu tak seberharga zaman ayah-ibu kita dahulu.

wassalam.

26062013. Banda Aceh.




Tuesday, 25 June 2013

Resensi Puisi “Penantian Kemeja Tua” Oleh Rahmatsyah




 Resensi Puisi “Penantian Kemeja Tua” Oleh Rahmatsyah
Penantian Kemeja Tua
Karya: Deddy Firtana Iman
Kain perca terbuang percuma
Di sini aku mewujudkan ruh impian kehangatan
Pada rongga-rongga lipatan ketulusan empat segi
Menerawang pada ujung pangkal leherku
Terus mengikat kemolekan seuntai bunga terselip di dada
Aku menatapnya penuh resah
Si tua yang menuai kesakitan
Menunggu bunga bermekaran di tubuh perjuangannya
Tersungkur dan terseok-seok
Kepiluan itu terjangkit memanaskan otakku
Sebagai anaknya
Semoga wujudku menyatu pada sehelai benangmu
Merapat sedekat kulitku, menyatu melipatkan tubuhku
Sehingga wujudku tersembunyi di balik kelembutanmu
Kemeja tua
Terlupakan karena umurmu yang telah meninggi
Terkunci pada lemari gudang-gudang kebencian penguasa jalanan
Dan aku menangisi memuliakan para veteran
Terbatuk-batuk di pojok kamarnya
Sebentar lagi, mungkin dia akan meninggal
Selamat jalan ayahku
Kau adalah pejuang dalam batinku
            Resensi Puisi
Keindahan untaian kata, imajinasi, nada, makna, tema, amanat, dan suasana ada pada puisi karya Deddy Firtana Iman. Inilah makna yang terkandung dalam puisi Penantian Kemeja Tua yang akan  saya coba untuk memahami makna dan dapat diambil tema sekaligus amanat. // Kain perca terbuang percuma // Di sini aku mewujudkan ruh impian kehangatan// penulis mengawali untaian katanya dengan ingin mencapai suatu yang ia rindukan selama ini. // Pada rongga-rongga lipatan ketulusan empat segi // Menerawang pada ujung pangkal leherku // Terus mengikat kemolekan seuntai bunga terselip di dada//. Mencoba melepaskan penat rindu selama ini yang tersimpan di dada, hanya mampu menahan dan belum sempat menyatakan dalam geraknya.
Cukup sulit memahami puisi dengan keseluruhan karena setiap pembaca mempunyai makna tersendiri. Sang penulis puisi kembali memprkuat kerinduannya pada bait selanjutnya.
Aku menatapnya penuh resah
Si tua yang menuai kesakitan
Menunggu bunga bermekaran di tubuh perjuangannya
Tersungkur dan terseok-seok
Kepiluan itu terjangkit memanaskan otakku
Sebagai anaknya
            Pada bait kedua ini penulis mencoba menampakkan sedikit penjelasan pada baris satu dan dua // Aku menatapnya penuh resah // Si tua yang menuai kesakitan // dua baris tersebut bisa dikatakan kata kunci pada bait kedua. “Si tua” adalah orang tua yang sedang sakit yang sudah lama hidup dalam perjuangan, // Kepiluan itu terjangkit memanaskan otakku // Sebagai anaknya // saat “Si tua” sedang menuai kesakitan si  anak dapat merasakan kesedihan melihat “si tua” yang berarti ayah.
Semoga wujudku menyatu pada sehelai benangmu
Merapat sedekat kulitku, menyatu melipatkan tubuhku
Sehingga wujudku tersembunyi di balik kelembutanmu
Di sini kita tidak dapat menemukan kata kunci seperti pada bait sebelumnya hingga tidak bisa dengan mudah menemukan makna pada bait tersebut, namun dari bahasa yang di pakai Deddy Firtana Iman menjelaskan bahwa ia sedang mendoakan “si tua” yang sedang menuai kesakitan. Penulis puisi tiada meenaruh kata langsung, melainkan kata imajinasi sehingga setiap pembaca bisa memberikan arti menurut masing-masing. Pemberian arti oleh setiap pembaca memang sudah hal lazim dan penulis pun tidak dapat mengahalaunya. Karena apabila penulis memainkan imajinasi pada karya sastra khususnya puisi akan mempunyai banyak arti. Seperti prinsip dasar sebuah puisi adalah  berkata sedikit mungkin, tetapi mempunyai arti sebanyak mungkin.
Di baris terakhir bait dua terakhir penulis puisi menerangkan bahwa // Sebentar lagi, mungkin dia akan meninggal //. Penggalan bait tersebut dia mengatakan mungkin “si tua” akan meningga, umur yang telah di makan oleh waktu. Alur puisi ini terus berlanjut sampai di bait terakhir // Selamat jalan ayahku // “si tua” yang sudah meninggal, dari bait-bait sebelumnya penulis menggunakan kata “si tua” yang dimaksud adalah sang ayah. Ayah yang menurut Deddy Firtana Iman // Kau adalah pejuang dalam batinku//.
Dari serangkaian cerita dalam puisi tersebut dapat kita simpulkan adalah kisah pilu ketika kehilangan seorang yang sangat dekat dengan kita, seorang yang selalu memberi kita nafkah dari hasil jerit payahnya sendiri. Tema yang terkandung dalam puisi tersebut adalah ketegaran sang anak saat kehilangan ayah tercinta. Amanat yang dapat kita ambil dari puisi tersebut adalah bagaimana kita dapat berlapang dada dengan ikhlas melepaskan seseorang yang disayangi dan dapat mengambil contoh baik dari ayah, karena pemimpin dalam rumah tangga adalah ayah, buka orang orang lain. Ayah adalah sosok yang patut kita beri jempol juga bisa banyak belajar dari keseharian yang dilaluinya, bertanggung jawab terhadap keluarga hingga ayah dapat dikatakan kau adalah pejuang batinku. Seperti kata Deddy Firtana Iman dalam Puisi Penantian Kemeja Tua.

Sumber: Blog pribadi Rahmatsyah

Sunday, 2 June 2013

Perjalanan Menanam Bunga


 
Perjalanan Menanam Bunga
Karya Deddy Firtana Iman

Bangunlah lebih awal
Dari lentera sinar mata
Membingkai lukisan kupu-kupu
Mengelilingi taman
Di belakang rumah
Ada kicauan burung
Sedang memanggil anaknya

Dan siapkan saja
Beberapa senyuman pagi
Membiaskan linangan air
Membasuh wajah kusam
Sembari menanggalkan
Mimpi-mimpi tadi malam
Yang gagal kau renggut manisannya

Lalu
Seekor kumbang
Siap mengantarkan madu
Perasaan dari perut
Yang tersayat kegelisahanmu
“Sejauh inikah perjalanamu?”

Sedekat menyelami takdir
Isi rindu menjiwai kembang sepatu
Bahkan ia berkelok
Membentur hidungku
Merasakan wangian yang lain

2013

Deddy Firtana Iman, bergiat di Komunitas Kanot Bu

Minggu, 2 Juni 2013 09:23 WIB



Tuesday, 21 May 2013

Selayang Pandang Kemiskinan dalam Kesenian







@Idrus bin Harun/ATJEHPOSTcom

“Apakah orang miskin tidak bisa menggambarkan penderitaannya sendiri?” Tanya Moelyono dalam catatan pembuka bukunya ‘Pak Moel Guru Nggambar”. “sebagai seniman, instrument kesenian yang hanya digunakan untuk mengharubirukan penderitaan orang miskin, sudah sepatutnya ditinggalkan” lanjutnya.
Moelyono adalah seorang perupa lulusan ISI Yogyakarta 1985. Baginya berkesenian adalah kerja nyata dan terlibat intens dalam masyarakat. Bukan semata mengangkat kembali penderitaan rakyat hingga menjadi konsumsi publik di ruang-ruang pamer mewah. Lelaki yang lahir di Tulungagung, Jawa Timur 5 Agustus 1957  adalah seniman militan yang  pernah ditolak dewan penguji ISI karena karya rupa ‘Kesenian Unit Desa’ KUD sebagai syarat ujian sarjana, dianggap memelintir makna ‘KUD’ yang oleh Orde Baru digembar-gemborkan sebagai pemerataan system koperasi hingga jauh ke pelosok desa terpencil. Walau kita tahu, KUD hanya akal-akalan semata.
Bagaimana pun tragisnya, kemiskinan tak sepenuhnya identik dengan ‘menjauh dari kebahagian’. Karena, antara kekayaan dan kebahagian bukanlah dua sisi dari satu koin. Meskipun secara umum kita beranggapan bahwa hanya keserbaadaanlah  membuat kita  dilingkupi kebahagiaan. Bahagia hanyalah perasaan nyaman yang kita bangun dalam intuisi. Bahkan, kebahagian justru tak ternalar. Karena, tiba-tiba kita merasa bahagia benar tanpa ada sesuatu motif apa pun yang mewajibkan kita untuk bahagia semacam terterimanya ajakan berpacaran dari lawan jenis. Rupa dari bahagia amat samar.
Meski pun kemiskinan ditolak dan dijauhi oleh setiap insan, keberadaannya amat populer. Dielu-elukan, diarak kemana-kemana. Bahkan kerap dijadikan komoditas yang amat menjual. Tidak hanya di dunia politik yang menjadikan kemiskinan sebagai barang dagangan dalam etalasenya. Dunia kesenian juga tak luput menjadikan kemiskinan sebagai alat yang terus menerus diangkat dan dihangatkan pewacanaannya. Karena orang miskin tidak pernah berkurang dan sejarah kemiskinan sama purbanya dengan ekspresi manusia. Dalam kesenian, kemiskinan tidak melulu diangkat dengan alasan mendongkrak karya. Bahkan, dalam kesenian, kemiskinan diangkat untuk memetamorfosiskan sifat-sifat kemanusiaan kita yang telah terbenam di dasar samudera kehidupan.
Jangan kamu bilang Negara ini kaya/kerna orang-orang miskin berkembang di kota dan di desa/jangan kamu bilang dirimu kaya/bila tetanggamu memakan bangkai Kucingnya/Lambang Negara ini mestinya trompah dan blacu/dan perlu diusulkan agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda/Dan tentara di jalan jangan seenaknya memukul mahasiswa.
Sajak yang dituliskan 4 Februari 1978 ini berjudul ‘Orang-Orang Miskin’. Tentu kita sudah sangat akrab dengan si burung Merak Rendra. Sajak-sajak protesnya populer hingga jauh melampaui masa hidupnya. Salahsatu penyair penting Indonesia ini menggedor pikiran orang kaya untuk melihat kekayaan dalam bentuk harta fisik bukanlah kekayaan hakiki. Kekayaan sejati adalah kemampuan berbagi sesama. Dan rasa empati adalah kuncinya. Karena kemiskinan bukanlah warisan dari keturunan. Kemiskinan adalah hasil dari kekacauan mengurus Negara. Kekacauan regulasi Negara dalam  mengatur hajat hidup orang banyak. Tanah, air dan udara tidak dikelola Negara dengan tangannya. Negara hanya sebagai fasilitator bagi pemodal menanamkan investasinya. Akhirnya Negara menjadi boneka bernyawa tanpa mampu bersuara di depan kuasa modal.
Kemiskinan menjadi indah bagi seseorang yang selalu mencukupkan diri pada apa yang diterima. Kemiskinan macam ini adalah kekayaan dalam bentuk lain yang diidam-idamkan orang. Hanya orang-orang rajin berusahalah kemiskinan macam ini selalu mendekat. Seperti kata hadih maja Aceh; “menyoe tatem useuha, adak han kaya ta duek seunang”.
Penyair muda Aceh, Deddy Firtana Iman dalam salahsatu puisinya di antologi ‘Menerka Gerak-Gerik Angin’ terbitan Tansopako Press tahun 2012, memotret kemiskinan dalam bentuk apa adanya tanpa berusaha untuk menyalahkan sesiapa atas kemiskinan yang dideritai seorang perempuan tua yang asyik menunaikan tugasnya mencari nafkah. Sajak ‘Nyak Maneh’ menghadirkan kemiskinan yang indah. Kemiskinan yang tanpa kehadiran air mata untuk menyempurnakan ketragisan nasib. Kemiskinan hanyalah lebel semata. Tak perlu diratapi pun disesalkan kehadirannya. Karena, keluasan hati dan pikiran adalah anugerah bagi jiwa yang Allah bonuskan untuk kita. /Mimpinya tak banyak/Untuk membahagiakan orang-orang terkasih/Pakaian using/Memakai topi jerami/Sandal jepit/Keranjang sampah dan mulai berjalan lurus ke depan sambil mewaspadai gerak-gerik angin menemani setiap langkah kakinya/Nafasmu/Melaju baying-bayang semu/Mengukir pengganjal perut/mengalir di setiap gerakan tangan/kakinya berkerut/dan tubuhnya kurus/tak pernah lelah mengais rezeki/dalam tumpukan sampah penuh bau busuk/ dan berbagai penyakit tak mengusiknya berhenti/matanya gesit/tangannya cekatan/ada kaleng/botol plastik/dan semuanya bisa dijual/dikumpulkan dalam keranjang sampahnya/untuk sesuap nasi hari ini/
Pada titik ini, mungkin seorang pekerja miskin tidak akan punya waktu untuk melukiskan deritanya sendiri (Walau dalam status fesbuk sekali pun) karena waktu mereka habis tersedot untuk pemenuhan isi perut yang ‘sehari cari, sehari makan’. Kehadiran seorang seniman dalam sengkarut kemiskinan amat penting untuk mengabarkan tentang kemiskinan yang tidak mungkin sepenuhnya terakomodasi dalam ruang surat kabar.
Begitulah, kemiskinan juga penting terpelihara. Kalau tidak, mana mungkin saban hari silih berganti peminta-peminta keluar masuk warung kopi. Kemiskinan tak lagi menyedihkan di zaman ini. Karena bisa menjadi lahan rezeki. Wassalam.[]

Idrus bin Harun, bekerja untuk ATJEHPOST.COM. bergiat di Komunitas Kanot Bu. Banda Aceh.

Sumber:

Sunday, 12 May 2013

Guruku

Guruku

Karya Deddy Firtana Iman

Tiada percakapan saling meramu
melahap srikaya berpunggung
pisang goreng, dibungkus mi caluek
penyiram hitam aroma kopi.

Kesekian kali koran pagi
mengabarkan perilaku kejahatan
menimbun BBM dan pembunuhan
seorang guru di perkampungan
terdalam ke hati kami.

“Kau pergi tanpa beban di pundak
dan telah melahirkan ribuan ilmu
untuk kami meraih cita-cita.”

Kepergianmu, sebuah perpisahan
antara orangtua kami, guru ngaji,
dan para ulama Serambi Mekkah ini.

2013

* Deddy Firtana Iman
, bergiat di Komunitas Kanot Bu

Minggu, 12 Mei 2013 08:27 WIB
Sumber: Serambi Indonesia

 

Kopiah Meukutop

Kopiah Meukutop   
Karya Deddy Firtana Iman

Di bawah kopiah meukutop
ia menyejajarkan pakaian jas
dasi warna merah memanjang hingga
ke pinggang dan bersepatu hitam.

Kami melamun penuh takjub di lapangan
Masjid Raya Baiturrahman akan pidatonya tentang Aceh

Katanya sambil berdehem lembut:
“Kita akan menguasai peradaban
baru bersama sejarah masa lalu.”
Tapi, iringan tepuk tangan itu tidak tahu
bahwa ia gagal membaca Alquran dengan fasih.

Dan aku pun berguman dalam hati:
Ia lupa makna kupiah meuketop itu

2013
 
 
*Minggu, 12 Mei 2013 08:26 WIB
 
Sumber: Serambi Indonesia


Sunday, 24 March 2013

Sobekan Baju Partai






Sobekan Baju Partai
Karya Deddy Firtana Iman

Sepasang mata menawarkan
Kata-kata puitis berslogan
Rekayasa cara menghindar
Dari kecaman bayangan
Pengunduran pemeluk partai

Diam-diam pemuda bertopi hitam
Mendekati amukan perjuangan
Bayangan sulit meraih keuntungan
Telah menjual harga diri
Di saku celananya

“Ini pakaianmu kukembalikan
 Beserta bendera kesayanganmu”

Riuh massa menjulang tinggi
Memekakkan telinga
Saling menatap cemas

2013

Deddy Firtana Iman, kini bergiat di Komunitas Kanot Bu. “Menerka Gerak-Gerik Angin” (2012) merupakan  sekumpulan sajak tunggalnya yang telah terbit.

Sumber: Serambi Indonesia 
Foto: Dayat VL