Beranda Judul

Sunday, 16 September 2012

Sebuah Percakapan Dalam Untaian Puisi


Vice Versa “Bukan Hikayat Yusuf & Zulaikha”, adalah sajian obrolan puisi yang beberapa waktu lalu diberikan kepada saya oleh penulisnya langsung, Reza Mustafa atas persetujuan Umma Azura di obrolan—dunia maya. Tepatnya buku itu saya baca semenjak bulan Ramadan, namun baru sekarang saya bisa menuntaskan hasil bacaan saya dan juga menulis beberapa apresiasi puisi dari sajian buku tersebut. Dan untuk itu juga saya mengucapkan terima kasih atas pemberian buku kumpulan puisinya.

Kita tahu tentang cerita antara Yusuf dan Zulaikha, yang disebutkan dalam kitab suci Al-Quran dalam surat Yusuf. Sementara itu, dilain kesempatan ini bagaimana dengan peranannya yang mengatakan buku itu bukan bagian dari kisah tersebut? Inilah yang mesti saya cari tahu terlebih dahulu maksud dan tujuan dari kumpulan puisi yang mengatakan “Bukan Hikayat Yusuf & Zulaikha.”

Sebelum kita mendahului maksud yang dituju ada baiknya saya membahas mengenai cover buku kumpulan puisi mereka. Pertama, di cover buku itu ditampilkan dua cangkir yang berbeda warna yang berisikan air kopi antara di pojok kiri atas berwarna “orange”, dan di pojok kanan bawahnya berwarna “hijau.” Kedua, antara sajian cangkir tersebut juga tertera nama penulisnya. Cangkir yang berwarna “orange”, atas nama Umma Azura dan di pojok kanan bawah berwarna “hijau”, atas nama Reza Mustafa. Dan kita sebagai pembaca secara tidak sengaja dilibatkan untuk memahami ada dua manusia yang tidak lain adalah penulisnya sendiri.

Sebagai pembaca, saya pun memahami maksud dan tujuan dari sajian cover dan judul pada buku kumpulan puisi mereka. Semuanya sangatlah erat—saling mengkaitkan dengan isi puisi dan saling berpengaruh antara imajinasi warna, kenikmatan dan pergolakan cinta di dalamnya. Sehingga, lagi-lagi bukan perihal kisah Yusuf dan Zulaikha seperti dalam percakapan antara kedua penulis di bawah ini:

Bukan Hikayat Yusuf & Zulaikha

│Umma Azura

Sebab kau bukan Yusuf

Dan aku bukan Zulaikha

Bajumu tak koyak di belakang

Makassar, 15.20.2012│at my room.

*(Halaman 7)

Pada puisi yang berjudul “Bukan Hikayat Yusuf & Zulaikha” telah menjelaskan tentang maksud lahirnya sebuah kumpulan puisi yang sedang saya baca. Umma Azura pun telah menyatakannya jikalau “aku bukan Zulaikha.” Si penyair perempuan yang satu ini mengatakannya untuk diri sendiri—lawan bicara dalam untaian puisi bersama Reza Mustafa dan kepada kita sebagai pembacanya. Lalu secangkir obrolan puisi pun dibalas dengan ungkapan “Kita Sedang Tak Membaca Hikayat Yusuf & Zulaikha.” Seperti sajian puisi di bawah ini:

Kita Sedang Tak Membaca

Hikayat Yusuf & Zulaikha

Reza Mustafa

Mungkin Yusuf tak pernah mengira pada Zulaikha. Atau Zulaikha memang tak mengerti tentang perasaan suka. Aku membayangkan baju yang koyak bersebab tarikan tangan. Aku tak membayangkan Yusuf, tak pula terbayang Zulaikha. Yang kubayang adalah baju yang koyak dan tangan yang membuat koyak. Aku membayangkan baju yang koyak dari depan.

Sementara yang sedang berpasang. Ya, sepasang. Sepasang tubuh berhimpitan (baca: berpelukan), mata keduanya bersitatap. Yang satu sayu, satunya lagi nyalang-nyalang nanar. Mata mereka bertemu. Pula tubuh yang menyatu.

Akh, hikayat Yusuf dan Zulaikha!

Banda Aceh, 15.02. 2012

*(Halaman 7)

Pada sajian puisi di atas, si penyair mengungkapkan tentang buah pikirannya mengenai keterlibatannya sebagai lelaki yang harus bercerita perihal kisah antara Yusuf dan Zulaikha. Sebagai perumpamaan antara kediriannya sebagai lelaki, penyair dan juga balasan obrolan yang sedikit liar diungkapkan pada sajian puisinya. Kita sedang tidak membaca hikayat tersebut, tetapi kita si penyair sedang meluangkan waktunya untuk menyeret pembaca pada ruang waktu yang lain. Tempat kejadian saling menatap di tempat duduk antara keduanya. Mereka yang saling menatap dan saling bercerita yang juga ditemani secangkir kopi di hadapan mereka “Mata mereka bertemu. Pula tubuh yang menyatu” pada kesempatan yang lain pula.

Kesempatan pertemuan antara dua jenis kelamin di kumpulan puisi ini menyebabkan percakapan keduanya semakin hangat untuk dipahami secara anak manusia. Penuh cinta disetiap kata-kata namun tidak terlalu bermuluk-muluk tentang rasa gombal sebagai pancapaian yang tidak jujur. Ya, kita sebagai manusia pernah mengalaminya. Ketika bertemu di suatu tempat yang telah ditentukan untuk saling bertemu, bercerita banyak hal dan tentang yang paling tersembunyi untuk diungkapkan kepada lawan jenis tersebut.

Sore Ini

│Umma Azura

kopi yang aku teguk, mengingatkanku pada bibirmu yang

mencintaimu.

Makassar, 18.02.2012 │at my room

*(Halaman 41)

Secangkir kopi di “Sore Ini” telah mengungkapkan tentang rasa rindu itu sendiri. Sendiri memang menyakitkan seperti “mengingatkanku pada bibirmu yang mencintaimu” adalah jawaban dari kesepian tanpa seorang teman, lawan naluri yang penuh rasa cinta terdalamnya.

Sore hari memang tepat untuk sebuah kenangan tentang lamunan percintahan. Sebagai lamunannya pun kita tidak segan-segan membayangkannya kepada wujud yang lain pula. Semisal rasa kopi dan segelas cangkir di hadapan kita. Inilah maksud dari kenangan waktu yang sepi pada sajian puisi “Sore Ini.”

Kopi & Sepasang Bibir Yang Bertemu

│Reza Mustafa

kau seruput lagi kopi sore ini

jenis kopi yang sama dengan

kopi yang diseduh oleh pendahulumu

kopi yang pernah membuat orang-orang

di barat melebarkan layar kapal

jelajahi laut menuju daratanmu

bagimu bicara kopi bukan saja

masalah bentuk atau buruk

kopi adalah representasi cita-cita

pemaknaan tentang warna-warna cinta

pula manifestasi atas pelbagai macam rasa

dan kini kutemui kau sedang duduk menunggu

sambil memegang secarik kertas bergambar

sebentuk sketsa wajah yang belum usai

di sampingmu kutemui pula secangkir kopi

duduk manis menemanimu dengan diam

ah, sore ini senja luput mengarahkan

warna emasnya ke wajahmu

tapi kopi? Ya, seperti yang kau sebut sebelumnya

kopi mengingatkanmu pada bibirku

yang keterlaluan mencintai bibirmu

Aceh, 18.02.2012. │Emperom

*(Halaman 41-42)

Setelah lama hidup dan bergelora di antara keterasingannya, maka timbullah buah cinta itu sendiri. Lawan bicara pada puisi “Kopi & Sepasang Bibir Yang Bertemu” telah mengobati rasa pahit dan pula lawan keterasingan tersebut. Saya pun sedikit terkejut dengan uantaian pemaknaan dengan sebuah kejujuran di puisi itu. Seperti ini, “Ya, seperti yang kau sebut sebelumnya/ kopi mengingatkanmu pada bibirku/ yang keterlaluan mencintai bibirmu/.”

Apa yang telah terjadi jika sepasang anak manusia menatap satu sama lain antara dimabuk asmara tersebut? Jawabannya tidak lain selain yang telah diungkapkan oleh sang penyair, Reza Mustafa. Cinta yang diburu, saling memburu untuk menyatu seperti maknet yang saling bersentuhan jika bertemu antara (+) dan (-). Dan hanya cintalah yang bias menyatukannya. Seperti di malam-malam berikutnya.

Kabar Darimu Malam Ini

│Umma Azura

Baru sekedar membayangkan dirimu pergi, rinduku sudah bertumpuk-tumpuk. Akh, bagaimana jika kau sudah benar-benar pergi. Rindu akan membunuhku, itu pasti.

Makassar, 24-02-2012. │at my room

*(Halaman 17)

“Apa kabarmu di malam ini?” Tentu jawabanya ada pada puisi “Kabar Darimu Malam Ini.” Ya, sebuah perasaan antara hari-hari yang kosong. Kedua penyair ini telah bertemu kembali. Menceritakan perihal perasaan mereka antara yang lelaki dan wanita. Apa kata mereka pada puisi tersebut. Tidak lain, penyair perempuan itu mengabarkan kepada kita si pembacanya tentang pasangannya yang baru saja pergi untuk keperluan yang lain. Mungkin aku menyebutnya sedang menyiapkan kata-kata “Rindu akan membunuhku, itu pasti.” Tentu bukan aku, tetapi si penyair wanitanya yang mengatakan seperti itu. Ingat itu!

Itu Pesan Rindu

Reza Mustafa

Tersebut; tak ada yang benar-benar pergi. Kecuali maut menjemput mengajak mati. Santai saja, pergi hanyalah usaha untuk kembali. Pergi adalah kata using yang telah basi bagi seorang penanti.

Maka kau yang dibalut rindu. Atau yang sedang menunggu. Sabarlah barang beberapa detik waktu. Atau temui yang telah pergi itu dalam sebuah duniamu sendiri. Serupa dunia yang telah kau gores dalam sebuah lukisan musim salju. Mungkin ia di sana. Mengerjakan beberapa pekerjaan sambil merangkai beberapa pesan. Itu pesan rindu. Tentu saja pesan untukmu.

Banda Aceh, 27.02. 2012.

*(Halaman 17)

Terkadang maut selalu dipersalahkan untuk sebuah kegagalan dalam mengapai sebuah hubungan yang ingin sampai pada puncaknya. Apa sebab kematian pula yang membuat manusia harus bunuh diri atau dikatakan gila pada akhir hidupnya? Entahlah, manusia memang selalu mengatakan seperti itu. Ingin rasanya menuntaskan sebuah kegagalan cintanya, namun tidak memikirkannya jika jalan pintas dianggapnya pantas. Seperti iklan di telivisi swasta kita saja.

Kegagalan pun ada juga jalan ceritanya, semisal mengatakan “Itu Pesan Rindu.” Tentu saja hal lebih baik akan membuahkan hasil yang menyenangkan pula. Lalu bagaimana dengan puisi yang berjudul sama? Ya, kata rindu adalah sebuah salam perpisahan yang hanya terhenti untuk sesaat dan dilain waktu pun akan dilupakannya oleh kita sendiri perihal sebuah kerinduan. “Tersebut; tak ada yang benar-benar pergi. Kecuali maut menjemput mengajak mati. Santai saja, pergi hanyalah usaha untuk kembali.” Dan pada kata-kata itulah bentuk jawaban perihal rasa cinta yang gagal, saling melengkapi antara sesamanya. Antara kedua penyair tersebut, mereka telah mengetuk hati kita sebagai pembaca. Mengatakan cinta itu semisal “Bukan Hikayat Yusuf & Zulaikha” , tetapi kita sendirilah yang merangkaikannya untuk sebuah percintaan. Baik untuk yang lebih baik atau malah kepada yang menyakitkan. Selamat membaca dan selamat pula untuk mencobannya!



Sumber foto: Vice Versa “Bukan Hikayat Yusuf & Zulaikha”


Monday, 27 August 2012

Memahami “Mendingan Aku Daripada Badut” Karya Abah Yoyok


Sangat sulit sekali mencari badut yang bisa bermain dengan begitu sempurna–baik dengan kelucuan atau pakaiannya secara universal. Karena lebih ditekankan dari bahasa tubuh dan bukan dari bahasa tulisan atau yang sekarang kita kaji adalah bentuk dari Mbeling itu sendiri. Apa hubungannya dengan judul di atas “Mendingan Aku Daripada Badut”. Ya, tentu saja tulisan ini adalah sebuah jalan penerang dari unsur kelucuan makna dan juga bentuk penyajiannya (mbeling).

Puisi telah banyak dilahirkan dari pandangan-pandangan si penulisnya yang serius. Puisi yang serius itu adalah puisi yang bercerita mengenai “memuisi” yang lebih spesifik dari penjiwaan manusia si penciptanya. Lalu bagaimana dengan puisi-puisi yang menghibur atau kita katakan dengan kelucuannya seperti badut yang sedang kita nikmati di sela-sela hiburan malam. Dengan pakaiannya yang unik, memakai warna putih dan mempunyai tonjolan warna merah bulat seperti bola berjarak beberapa senti meter dari jaraknya yang lain. Dan dengan kemahirannya pun ia mulai mengibur kita dengan permainan bola atau botol minuman yang dilambung antara ke kiri dan kanan dengan kedua tangannya–saling penuh perhatian penuh. Hingga akhirnya dihadiahi tepukan tangan karena kita pun menganggapnya sebuah kelucuan dan juga rasa takjub di akhir permainannya.

Bagaimana dengan hiburan tentang apa yang kita baca melalui sebuah puisi. Baik itu puisi yang serius atau sebalinya sebagai puisi yang mbeling secara hiburannya.

Ada dua contoh puisi yang ingin diutarakan di bawah ini sebagai bentuk puisi kelucuan dari mbeling tersebut. Puisi karya Abah Yoyok, dari sebuah buku yang saya kutip berjudul “Antologi Puisi Mbeling Suara Suara yang Terpinggirkan” (Semarang, 2012). Dan kedua puisi itu juga bagian dari kelucuan dan ketegasan dari apa yang ingin disampaikan oleh si penulisnya. Hal ini terbukti dari judul puisi “Benar-Benar Badut” (Halaman 1) yang tersaji di bawah ini.

BENAR-BENAR BADUT

Bila benar bapak berbuat baik

bagi bangsa

bagaimana bisa

bala bencana bolak balik

berdatangan

bikin bumi berantakan

betapapun bapak berkata

bahwa bila bersama bakal bisa

bikin bahagia bangsa

buktinya bohong belaka

bapak benar-benar bagai badut

bangsa bisa bangkrut bila begini

Cisauk, 14.05.11

Benar-benar sebuah permainan antara “aku” sebagai pencipta puisi–penyaji pentas dan badut sebagai pelaku kelucuan dalam sebuah puisi. Maksud puisi itu ditegaskan dengan sangat rapi dari permunculan di akhir puisi sebagai bentuk kelucuan dari si pelaku sebagai “Bapak” seperti di bawah ini.

bapak benar-benar bagai badut

bangsa bisa bangkrut bila begini

Bapak yang dimaksudkan di dalam bait tersebut justru kepada penguasa yang membuat keputusan dengan kehendaknya sendiri namun malah membuat kelucuan dengan apa yang sedang ia lakukan di atas panggung. “Bangsa bisa bangkrut bila begini” adalah bentuk ketidaklucuannya yang ingin ditegaskan di bait tersebut. Sebagai badut yang kita anggap suatu pandangan kelucuan. Dan kita pun mengeluarkan uang banyak demi sebuah harapan kelucuan dan kehebatannya.

Mendingan aku mendingan daripada badut, ialah sebuah harapan untuk lebih baik dan tidak sekedar membuat kelucuan yang bisa menyebabkan orang-orang mengeluarkan uang untuknya, untuk sebuah permainan yang sengaja direncanakan dengan baik. Namun di akhir pementasan itu adalah sebuah harapan yang buruk, kerugian dan sebagainya yang membuat rakyat sengsara oleh permainannya semasa menjabat sebagai “Bapak”, penguasa.

“Daripada daripada mendingan aku mendingan” (Halaman 5), juga menegaskan hal yang sama. Tetapi bentuk dari perlawanan yang sesungguhnya kita sebagai manusia yang berakal sehat. Mempunyai visi dan misi lebih baik dari hasil penerangannya yang buruk sebagai Bapak yang berjiwa badut. Tetapi puisi di bawah ini juga bagian yang sama di akhir puisinya, sama-sama menegaskan bentuk kelucuan di antara puisinya tersendiri.

DARIPADA DARIPADA

MENDINGAN AKU MENDINGAN

sudah kuculumunyun segalagalanyaman segalamanyun

hidup malah makin manyun markunyun

sementara kamu terus berkelomang bulukutuk merkutuk

dan para ontohod asyik mengecipirit seiprit demi seiprit

turun naik si kalamenjing

sampai aku terkaingkaing bagai anjing menggunjangganjing

lantaran bumi mulai miring, otakotak miring dan orangorang semakin

sinting tnah subur rejeki garing mongering bagai nasi aking

maling teriak maling melengking sampai kencingnya menggemerincing

hidup makin manyun markunyun

amburadul berjenduljendul

diacakacak yul gemuyul tuyul

bangsa lelembut peliharaan para semprul

ya sudahlah kalau begitu

dari pada daripada

mendingan aku mendingan!

Cisauk, 29 April 2011

Seperti maksud dan tujuan dari puisi di atas, juga menjelaskan sebuah bentuk kehidupan yang sedang diperankan oleh anak manusia yang juga terus-terusan dihadapkan dengan kejanggalan. Sebuah ketidaknyamanannya pun semakin tajam, tertanam di ingatakannya yang tidak bisa berjalan berlogika dengan baik. Semua manusia ingin melihat perubahan dan bukan sebuah panggung sandiwara yang keseluruahannya pun bukan dimainkan dengan keistimewaan manusia, tetapi dimainkan oleh sebuah kelucuan.

Di antara penyajian puisi di atas, mempunyai beberapa yang dianggap bisa mewakilkan bentuk ketegasan dan kelucuan tersebut. Setidaknya ketegasan itu bisa kita baca di bawah ini sebagai image pada penyajiannya.

ya sudahlah kalau begitu

dari pada daripada

mendingan aku mendingan!

Seperti pada penyajian bait di atas, bentuk rasa hormat yang paling dalam. Semuanya dipisahkan dari setiap objek pandangan manusia atau boleh disebutkan sebagai “aku” si penulisnya. Ingin menganugerahi tanggung jawab memenuhi koridornya sebagai manusia yang mulia. Anak manusia tanpa kesalahan, baik itu sebagai penikmat di tempat ia berdiri sebagai penonton. “Ya sudahlah kalau begitu/ dari pada daripada/ mendingan aku mendingan!”. Ialah bentuk dari rasa bersyukur itu sendiri, sebagai manusia yang serba mempunyai tujuannya yang baik. Tidak buruk seperti badut yang sedang melucu dengan segala keunikan di tubuhnya.

Terlepas dari penyajian dua puisi di atas, tentu saja adalah sebuah kelucuan yang sangat saya nikmati sebagai pembaca dan menuliskan untuk kita nikmati bersama. Menertawakan si Bapak dan Badut sebagai pembawa kebangkrutan di pentas tanah dan air Indonesia.


*Tulisan ini ada di catatan Facebook.

Monday, 16 July 2012

Tiang Khayalan


Sebuah kehadiran adalah ilusi jangka panjang. Bermula dari pandangan lurus yang terukur antara mata dan sudut pandangku melihat sesuatu berjarak sekitar lima puluh meter. Jarak persinggahan itu telah meleburkan kelelahan, pada suatu kesejukan di sore hari. Aku menyebutkannya sebuah firasat yang buruk.

Pandanganku masih menjaga kedekatanku berdiri di balik tiang penjangga gedung. Kakiku bersembunyi dengan baik, mataku terus menyoroti sesuatu yang bergerak. Baik itu sosok manusia berjenis kelamin perempuan atau sebaliknya. Membuatku lebih waspada jika terjadi sesuatu hal di luar dugaanku. Sebut saja semisal keterkejutanku mengenai seekor tawon atau semut merah. Tentu saja, jika berhadapan dengan mereka, nihil rasanya untuk menjaga kenyamananku bersembunyi lebih lama lagi.

Seperti pakaianku ini. Bergaris kecil-kecil dengan perpaduan berwarna cokelat tua, sesuai dengan penyamaran warna kulitku. Jadi, kuurungkan niatku memakai pakaian penyamaran yang lain, sebab setiap penyamaran adalah lorong menuju persembunyian untuk mengejutkan sesuatu. Kusebutnya sebagai wanita idamanku, dalam sebuah perenungan berwarna cokelat tua.

Semisal warna putih pada tiang penyangga gedung. Warna putihnya sudah lebih dulu menghiasi warna-warna impian tempatku berlindung darinya. Sebagai sebuah khayalanku atau hanya sebagai perenungan untuk memastikan keberadaannya tepat di hadapanku. Jika benar, maka wujudnya akan menjadikan tempat ini adalah yang pertama dan terakhir aku singgahi sebagai bukti khayalanku itu memang bernar-benar terjadi. Di sini, di tempat ini, pada sebuah tiang berwarna putih.

Aku pun tidak akan memperdulikannya, tentang seseorang yang berkata “kau seperti orang gila saja. Berdiri tanpa sesuatu yang pasti.” Dan yang lebih parahnya lagi, seseorang malah melemparkan secuil kulit melon yang baru saja dikunyahnya dengan gigi yang belum sempat dibersihkan di pagi ini. Sungguh menyebalkan sekali. Tetapi, aku telah mengatakan dengan keyakinanku. "Ada yang lain di sudut itu, entah itu kamu ataukah hanya dugaanku saja. Semoga benar!"

Setengah Lembar Gadis Senja



Ada beberapa sahabatku di dunia maya yang menanyakan perihal “Gadis Senja” itu. Pertama, “apakah tulisan itu berhubungan dengan kegagalanmu untuk mendapatkan gadis secara nyata?” Kedua, “tulisanmu itu mengingatkanku pada suasana pertemuanku dengannya. Apakah sesuatu gadis itu berhubungan langsung dengan diriku?” Dan yang ketiga, dari mana kau temukan ide tulisan kecil yang cantik seperti itu?”

Dari ketiga pertanyaan itu, ada satu pertanyaan yang membuatku sedikit tersenyum dengan rasa kelucuanku tersendiri. Seperti pertanyaan yang dilontarkan pada pertanyaan yang pertama. Sulit memang untuk menjawabnya, namun pertanyaan itu telah membuatku untuk lebih bersemangat dalam menulis dan berkarya baik itu puisi dan cermin. Ya, setidaknya aku memang sedang menuliskannya hingga saat ini. Tidak ada yang salah mengenai hal tersebut, sehingga mengenai pertanyaan itu adalah sebuah pertanyaan dan jawaban yang secara keseluruhannya telah membuat jawabannya sendiri. Lebih tepatnya di dalam pikiranku sendiri. Tentang cinta, menulis, dan wujud diriku sebagai seorang lelaki yang sangat sederhana.

Lelaki yang sering mempertanyakan tentang seorang gadis, dari pintu ke pintu hatinya. Walau gagal untuk membuka pintu secara senyum dan sekuntum bunga Mawar di tangan kananku, maka aku sebagai lelaki memang harus memperjuangkannya hingga hari ini. Seperti tulisan itu, “Gadis Senja” yang semakin menawarkan imajinasinya secara tersendiri. Dan jika aku membacanya, ada sedikit kegetiran yang membuatku berpikir dua kali untuk sebuah tulisannya. Tentang aku dan tentang sebuah kegagalannya.

Baik secara tegar, maupun secara kesedihannya. Kini, tulisan itu semakin melanglang buana ke sudut-sudut laci pemikiran si pembacanya. Dari sudut pandangnya sebagai wanita atau malahan sebagai wanita yang turut menyertainya sebagai korban rayuan si lelaki tersebut. Dan aku sebagai penulisnya, merasakan hal yang sama seperti yang sedang kalian baca. Tentang cinta itu sendiri. Bahwa, antara rasa cinta dan senja, adalah bukti memperjuangkan untuk rasa saling menjintai tersebut. Di selembar kertas yang sedang kalian baca, walau sampai hari ini aku belum membacanya dalam berbentuk sebuah buku.

* Catatan kecil untuk diriku sendiri

Ornamen Luka

Kerap kita disuguhkan kendala memancing ikan di danau yang tak berisik airnya. Kemungkinan kita akan mengatakan, "mau ngapain di situ untuk jangka waktu yang lama." Sekurang-kurangnya tiga atau empat jam untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Ini masih anggapanku sebagai seorang lelaki yang sabar menunggu ikan itu untuk dibawa pulang. Sebut saja, ia adalah sebuah harapan kecil, sesuatu yang ingin dinikmati di antara jamuan makan malam.

Sebatang lilin telah dinyalakan dan sebuah harapan kecil itu hanyalah hisapan jempol dengan tulang dan kepala ikan yang masih tersisa di atas piring. Kau tentu beranggapan, kalau aku hanya menghasilkan seekor ikan besar. Sebab, aku menikmatinya seorang diri di malam ini.

Sebuah harapan telah pergi di malam ini, semoga tidak untuk di malam yang lainnya.

Keinginan itu semakin menjadi-jadi, ketika pada siang hari. Aku memasuki ruang penyimpanan berbagai macam barang yang sudah lama tidak kugunakan. Ada beberapa pekakas tentang alat-alat pancing, kursi lipat, tempat pemanggang ikan, jeringen minyak dan senter ukuran besar. Semuanya masih bisa kugunakan, sebab keselurahannya memang aku bungkus memakai kertas koran dan dilapisi dengan plastik. Sehingga aku benar-benar bisa menggunakannya lagi.

Kali ini, jam telah menunjukkan ke angka enam. Keadaan yang memang sangat disukai oleh orang-orang untuk berpergian keluar rumah, lagipula cuacanya sangat bagus. Ini adalah cuaca kegemaran Te Cang, sahabat karibku. Apa kabar dia, semoga dia juga telah menyiapkan berbagai keperluan untuk memancing di malam ini.

***

Suasana di malam ini telah dipenuhi lampu di berbagai sudut yang telah ditentukan untuk memancing. Tapi, aku belum melihat Te Cang dan kendaraan bututnya di tempat parkir. Di mana dia, ini sungguh di luar dugaanku. Ketepatan janjiku padanya telah kukabarkan tadi sore, kalau aku harus singgah ke toko alat pancing dan membeli bekal beberapa cemilan dan tentunya dua bungkus rokok kesukaannya.

Bersambung…

Tanggapan Mereka Mengenai Puisiku



Pengirim Ayu Ira Kurnia Marpaung

Jumat, 27 Maret 2009

Uang Rakyat

Tersenyumlah dengan kemewahan

Bangga akan kemenangan

Harta kekayaan demi kekuasaan

Uang rakyat dan penindasan

Kami tertindas

Merasakan terhempas

Oleh penguasa yang beringas

Pejabat duduk hingga puas

Semuanya serba pas

Hingga rakyat tewas

Lalai akan tugas

2009

Dimuat Gemasastrin PBSID pada Februari 8, 2009

Komentar untuk puisi di atas cukup singkat, padat , dan jelas maknanya. Tidak beda dengan apa yang sekarang telah terjadi pada Negeri saat ini. Pemerintah, pejabat tinggi, atau penguasa sekalipun “lalai akan tugas”. Terlalu menikmati kekuasaan yang diperoleh karena rakyatnya sendiri.

Kami tertindas

Merasakan terhempas

Oleh penguasa yang beringas

Pejabat duduk hingga puas

Semuanya serba pas

Hingga rakyat tewas

Lalai akan tugas

Bait demi bait yang di atas seharusnya mampu membuat mereka sadar. Mereka itu beringas, buas, seperti ingin menerkam mangsa. Bukankah mereka dipilih untuk mensejahterakan rakyat, bukan sebaliknya. Semoga setiap goresan anak Negeri lambat laun akan membuat pemimpin, penguasa, pejabat, dan pemerintah sadar akan apa yang mereka buat.

Buat penulisnya sukses terus ya, semua puisinya keren. Tapi ini yang paling saya suka karena menggambarkan situasi Negeri saat ini. Happy birthday, semoga setiap jejak tintanya bermanfaat buat orang lain ^_^

Nama : Ayu Ira Kurnia Marpaung

No. Hp : 0821-6495-****

__________________________

Pengirim Keep Smile Azizah

bg , maaf jika lancang...

demi keinginan mengikuti event yang abang buat ... berhubung email saya sedang bermasalah...sya putuskan untuk mengirimnya lewat inbox saja

maaf tidak mengikuti aturan , terima kasih atas pengertiannya . salam pena

Selembar kertas putih

Oleh : Deddy Firtana Iman

Kursi pun memanggil potongan rambut

Tertahan di bawah dagu.

"Ada tahi lalatmu!"

Di sela-sela obrolanmu.

"Wajah tertata bersama kelas penghuni 37."

Hingga kini, penyair mundur melafalkan

nada oktaf yang tinggi, mempertemukan kita.

Pada dinding dunia maya.

Ketikan sapaan "apa kabar!"

Dan aku tersenyum melirikmu

di dalam ruangan tersembunyi

oleh sketsa gunung dan persawahan

sama-sama mempertanyakan nilai seninya.

Sesulit menentukan pekerjaan rumah

2+2=4 telah menjadi ornamen selepas

matahari terbit di atap segi empat

Sambil menikmati es lilin mencair

oleh waktu yang disisakan

di jam 12.

Bel sekolah telah berbunyi

Ada kesukaanku di situ.

Sketsaku mulai menentukan

Warna; perjalanan tentang pertemuan ini.

Aku berdiri dua warna; di dekat sawah.

Dan kau duduk di bawah pohon cemara.

"Kapan kau lukiskan wajahku!"

Atau "Mewarnai pintu kelas menutup mimpi ini."

Setiap waktu dikunyah oleh selembar kertas.

Tanpa berhenti hingga sekarang.

Sehingga aku sulit mengenal warnamu;

"Senyum itu ada di mana?"

2012

* Foto dari Yusra Amalia. Teman semasa SD.

"Titik Temu di Antara Dua Titik"

Komentar : diksi yang di gunakan begitu bagus , dan imajinasi penulis sangat tergambar pada kata-kata sederhana menjadi kaya. Seperti pada kata : Pada dinding dunia maya.

Ini di maksudkan untuk facebook atau jejaring social lainnya.

2+2=4 telah menjadi ornamen selepas

matahari terbit di atap segi empat

banyak bait yang menerka-nerka pembacanya , lucu dan menarik sekali

alasan memilih puisi ini : gaya bahasa yang jarang di temui dan kosa kata baru bagi saya . puisinya mengalir dengan sempurna

pada- selembar kertas putih penulis menuangkan segala imajinya , melukis wajah seseorang yang ada dalam benaknya .

azizah nur fitriana

Hp : 085763970***

_______________________

Komentar dariku secara pribadi:

Sebenarnya aku merasa bingung atau aku sendiri yang salah menuliskannya pada poin 3. Silahkan dicari judul dan puisi yang kamu sukai, terutama yang dimuat di Koran saja.

Namun, yang mengirimkannya hanya dua orang. Seperti Ayu Ira Kurnia Marpaung, menyukai puisi yang berjudul "Uang Rakyat". Puisi itu sebenarnya hanya dimuat di situs internet dan bukan di koran. Dan Keep Smile Azizah, juga menyukai puisi yang ada di catatan facebook.

Mengenai masalah kesalahan itu. Jadi tidak ada salahnya jika pulsa itu aku berikan saja untuk kalian berdua. Walau ketentuannya tidak diakui kebenarannya, namun karena aku menilai dari hasil semangat kalian untuk bisa ikut dan daya semangat untuk bisa menghargai karya orang lain dengan segenap jiwa kalian. Hanya itulah yang aku sukai dari diri kalian secara pribadi.

Aku secara pribadi juga mengucapkan banyak terima kasih untuk kalian, untuk waktu, apresiasi puisi dan ucapannya juga yang selama ini hanya kukenal di dunia maya saja. Semoga tetap sehat selalau di sana ya.

Salam dan tetap semangat berkarya!

*Silahkan dibaca di pesan FB, kepada dua nama yang disebutkan... Terima kasih.. :)

Foto darinya Surya D. Syarief... :)


Wednesday, 4 July 2012

Negeri-ku, Pemimpin Dusta dan Pedasi di Atas Kursi



"Hanya ada satu kata: lawan!” Begitulah sebaris kata-kata yang terdapat pada judul “Peringatan”, karya Whiji Thukul. Masih menghiasi di antara pemikiran kita hingga hari ini. Meskipun perlawanannya telah berakhir ketika “Wiji Thukul diculik dan dilenyapkan oleh kaki tangan rezim Orde Baru karena puisi-puisinya serta aktivitasnya di dunia politik praktis, namun semangat perjuangan yang tercermin dalam sajak-sajaknya akan terus hidup.” (Sambodja, 2008). Walau diculik dan dilenyapkan, namun karya-karyanya tetap diikuti dan diapresiasikan hingga hari ini. Baik secara perorangan maupun secara nasional dengan konsep dan ideologi kekiniannya.

Antara Wiji Thukul dan W.S. Rendra, sama-sama mengusung tema yang sama walau ada beberapa puisi-puisi cinta yang dituliskan oleh W.S Rendra. Namun tetap bertemakan sosial yang cukup dikenang oleh pembacannya hingga hari ini.

Sehingga tidak mengherankan jika W.S Rendra, masih dihidupkan dengan “Sajak Sebatang Lisong”-nya. Baik yang dikatakan pada tiga baris di bait pertama, /dan di langit/ dua tiga cukong mengangkang,/ berak di atas kepala mereka//. Tentang perlawanan dan ungkapan rasa ketidakadilan dari para cukong yang meraut keuntungan. Dan /membentur jidat penyair-penyair salon,/ yang bersajak tentang anggur dan rembulan,// yang hanya bermain dengan puisi-puisi cinta. Tidak memperdulikan tentang apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Baik secara ril maupun non ril.

Jika bercerita tentang keadilan dari puisi kekinian, maka Ramatsyah pun juga patut dikatakan sebagai penyair yang mengusung jalur yang sama-sama digariskan oleh Wiji Thukul dan W.S Rendra. Meski karya-karyanya hanya mampu dilahap di selembar koran lokal yang ada di Banda Aceh. Tepatnya di koran Serambi Indonesia dan Harian Aceh, seperti pada puisi di bawah ini:


Pedasi di Atas Kursi

Lepas suara siap berlaku
Para tuan pedasi yang bercinta
Bersilat lidah di atas pentas
Berkata janji si mulut setan

Senang alami di awal hari
Telah terpilih si tuan raja
Kami berdiri berharap itu janji
Menatap sang tuan yang berdasi

Di atas meja dan kursi putar
Selembar kertas terhitung rupiah
Hitungan jutaan sampai tak terhingga
Lengah mata Tuan Raja
Silaunya uang ia berdalih

Janji diingkari uang dicuri
Kami si miskin terlena akan janji
Terbuai kata jelmaan iblis

Kini, kami hanya menanti
Sang tuan raja seperti dalam mimpi

Rahmatsyah, 28 Maret 2012


Pada bait puisi yang ketiga, Rahmatsyah mengatakannya seperti ini. /Di atas meja dan kursi putar/ Selembar kertas terhitung rupiah/ Hitungan jutaan sampai tak terhingga/ Lengah mata tuan raja/ Silaunya uang ia berdalih//. Tidak dipungkiri jika di bait itu Tuan Raja ialah sebagai para penguasa di negeri ini. Menggunakan kekuasaan dan jabatannya hanya untuk menikmati kekayaan dari hasil yang bukan haknya. Hal tersebut terbukti pada bait keempat, menjelaskan perihal tentang /Janji diingkari uang dicuri/ Kami si miskin terlena akan janji/ Terbuai kata jelmaan iblis//. Tentu saja, hal tersebut membuat berang sang penyair yang juga mengatakan di bait kelimanya. /Kini, kami hanya menanti/ Sang Tuan Raja seperti dalam mimpi//. Yang juga merindukan sang penguasanya, walau hanya diungkapkan di “dalam mimpi”.

Meskipun puisi yang berjudul “Pedasi di Atas Kursi” masih bermain dengan penyampaian berpola rima ab-ab, pada bait kedua puisi tersebut. Namun puisinya mampu mempertegaskan pemikirannya kepada kita sebagai pembaca. Untuk merenungi tentang hak dan kewajiban sebagai pemimpin yang baik. Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Pada puisi di bawah ini pun menceritakan hal yang sama. Tetapi lebih difokuskan secara nasional, kepada pemimpin di negeri ini yang juga dijelaskan pada pengamatannya secara mendalam. Berikut sajian puisinya, perihal mengenai pemimpin dusta tersebut.


Negeri dan Pemimpin Dusta

Untuk apa hidup di negeri ini
Bila kalian hanya membuat kami menangis
Untuk apa kami memilih pemimpin
Bila sang pemimpim tak memimpin
Kami bagai makanan yang hanya kau lahap waktu lapar

Kenyangkah kalian sekarang dengan uang kami
Kau makan harta kami
Kau renggut sejahtera

Rakyat jelata hanya berbaring di atas kasur tua
Sedang kau mimpi indah dipembaringan mewah
Rakyat jelata kini duduk tak bisa bersuara
Jiwa mereka meronta tanpa bertindak

Mahasiswa berdiri di hadapan kalian
Mewakili mereka yang sedang istirahat, lalu mencari nafkah
Sesuap nasi hasil keringat
Kini beban mereka bertambah karena kalian
BBM kau naikkan,

Ah, pembohonglah kalian
Berjanji pada kami
Namun, kau hancurkan kemudian

Negeri dan pemimpin dusta

Rahmatsyah, 24 Maret 2012


Setelah membaca dan memahami perihal puisi yang berjudul “Negeri dan Pemimpin Dusta” tersebut. Ada serangkaian kejadian yang selalu berkaitan, sambung-menyambung menjadi suatu kejadian di setiap bait puisinya. Seperti pada bait pertama, yang begitu tegas dikatakannya /Bila sang pemimpim tak memimpin/ Kami bagai makanan yang hanya kau lahap waktu lapar//. Pada bait kedua, ditegaskan pula dengan dua baris yang juga menyatakan kelangsungan semasa penguasa memimpin negeri ini. /Kau makan harta kami/ Kau renggut sejahtera//. Dan pada bait terakhir inilah sang penyair berkata dengan lantang. /Ah, pembohonglah kalian/ Berjanji pada kami/ Namun, kau hancurkan kemudian//. Perihal tentang janji palsunya, tentang menaikkan harga BBM dan berbohong di balik kepemimpinannya. Adalah sebagai ungkapan dari “Negeri dan Pemimpin Dusta” tersebut, yang telah dinyatakan dengan ketegasannya sebagai penyair di negeri ini.

Dari kedua judul puisi tersebut, setelah membacanya dan memahami tentang apa yang ingin disampaikan oleh penyair Rahmatsyah tersebut. Adalah serangkaian pada masa-masa yang juga terjadi di akhir-akhir ini, tepatnya di “Negeri dan Pemimpin Dusta” ini. Ia menulis puisi yang bisa dimengerti oleh kalayak ramai tentang kenyataan hidup orang-orang yang melarat, dihimpit kemiskinan. Dan, pada akhirnya bahwa di tangan penyair, fakta sosial bisa menjadi kekuatan yang sangat luar biasa. Ia mengungkap fakta ketimpangan sosial dengan kepekaan kepenyairannya. Namun, kata-kata sang penyair seperti Rahmatsyah memiliki perjalanan yang panjang. Entah kapan, semoga sang penyair mampu menghasilkan karya-karyanya, hingga akhir hayatnya.

Sumber:

Negeri dan Pemimpin Dusta (Harian Aceh, 08 April 2012)

Pedasi di Atas Kursi (Harian Aceh, 08 April 2012)

Foto: Abu Rahmat

Tulisan ini ada di catatan Facebookku.


"Titik Temu di Antara Dua Titik"