Beranda Judul

Thursday, 6 October 2011

Deddy Firtana Sang Penyair

Nota Ringkas


Oleh A.Kohar Ibrahim


KERAP kali datang rangkaian pertanyaan dari kalangan generasi muda sekaitan dengan aktivitas-kreativitas tulis menulis. Salah satunya pertanyaan tentang kepenyairan. Seketika aku jadi teringat sekian waktu yang lalu, nada ranya nyaris serupa pun diajukan kepada penyair Sejuta Puisi Hasan Aspahani. Yang memberi jawaban cekak-aos: Penyair ya menulis syair.


Dalam variasi ekspresi lainnya, aku sering bilang bahwasanya: Penulis ya menulis dan pelukis ya melukis. Hasil nyata kreativitas bukti utamanya. Sekaligus bukti esksistensinya.


Begitulah anggap tanggapanku akan sorang seperti Deddy Firtana Iman, kelahiran Banda Aceh 21 Juni 1986. Penerima pendidikan setelah di SMA Negeri Banda Aceh lantas lanjut ke FKIP UNSYIAH Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia.


Maka tak mengherankan jikalau putera Negeri Serambi Mekah ini punya perhatian pada kesusastraan dunia umumnya, khususnya Indonesia. Salah satu sosok penyair dunia yang dikenalnya adalah penyair Chili: Pablo Neruda. Dan tak heran kalau dia suka membaca, khususnya sederetan sastrawan dan penyair Indonesia. Seperti antara lain Chairil Anwar, Joko Pinurbo, WS Rendra, Wiji Thukul dan sudah tentu Pramoedya Ananta Toer yang ujar katanya dijadikan Kutipan yang paling disenangi: “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”


Maka tak heran pula, wajarlah, jikalau Deddy mengayomi itikad menjadi penulis atau penyair yang berkemampuan menyampaikan sesuatu yang bermakna demi menggugah kesadaran manusia sesamanya. Suatu itikad selaras kesadaran yang mendasar.


ITIKAD Deddy memang layak simak layak perhatian lantaran selain mendasar sekalian juga mengantar hari depan. Dan sudah terbuktikan oleh hasil kreasi pulisi berupa sajak-sajak yang disiar di beberapa media cetak pun elektronika. Seperti antara lain “Serambi Indonesia” dan “Harian Aceh” edisi Minggu serta di Majalah “Lensa Unmuha”. Juga naskah puisi termaktub dalam antologi “Tsunami Kopi” dan“Lelaki Di Gerbang Kampus”.


Kesan yang diperoleh dari menyimak berkas sajak-sajak Deddy Firtana pertama-tama iyalah kekonsekwenannya menghayati itikadnya dan selanjutnya terkesankan pula akan bakatnya sebagai penyair berkesadaran untuk apa menulis itu. Puisinya rangkai kata kata lugas tertata apik, sarat ungkapan berirama sederhana tanpa keganjenan intelektualita yang tak mudah tercerna bagi pembaca kebanyakan. Puisinya nyanyian jiwa – karenanya mampu menyentuh sesamanya. Puisinya lagu manusia.yang bervariasi dalam ekspresi juang perjuangan hidup kehidupan. Suka dan duka kehidupan. Berdimensi lokal sekaligus internasional global. Seperti ungkap mengungkapkan manifestasi aksi kekerasan alam Tsunami. Seperti manifestasi aksi kekerasan sang pembelah batu demi cari rezki – semata mata bukti bakti Sang Ibunda membesarkan anak-anaknya. Seperti perhatian sekalian perasaan simpatinya pada perjuangan rakyat Palestina melawan tindak ketidak-adilan dan kekerasan Israel. Seperti juga pengungkapan tentang peristiwa yang berawal dari Gerakan 30 September 1965 dan kelanjutannya berupa Tragedi Nasional.


Berikut ini saya turunkan beberapa kreasi puisi berupa sajak-sajak Deddy Firtana Iman sebagai perkenalan pertama.

*


Kumpulan puisi

Karya: Deddy Firtana Iman


Coretan penuh makna

Goresan penuh sukma

Aku menuliskan puisi

Sambil melamun sendiri

Diantara mimpi suci

Satu dua tiga

Jadilah cerita cinta

Puisi lengkap nada senja

Dan puisiku melanglang buana

Diantara mimpi tertunda


2009

*


Air Mata Ibu

Karya: Deddy Firtana Iman


Ibu mengayuh tangan

menghajar batu kekal

di tepi gunung yang jurangya memikat

kematian


Pulang-pulang

tanganya berlumuran darah

baju basah kuyub

segoni batu-batu telah didapatnya

dengan perasaan yang galau

penuh tanda tanya yang mengherankan

“untuk apa kita hidup

hanya berbekal penipuan yang angkuh

sirna dihapus hujan

tidak abadi dihinggap matahari”


Kami semuanya terdiam

mendengar jerit hatinya

mulai mengeluarkan air batu

dari bola matanya yang resah

aku pikirkan jerit hatinya

tentu saja tapak tanganya

tiada berhenti untuk bekerja

memenuhi kebutuhan kami

hingga Ibu meninggal dirintih kesakitan

oleh hidup melarat kemiskinan


(2009)


*Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"

Minggu, 11 April 2010

*



Palestina

Karya: Deddy Firtana Iman


Terluka, kaku dan kelaparan

Dihantam duka keganasan Israel

Doaku untukmu

Walaupun kutahu

Negaramu masi terancam mencekam

Sudikah diriku

Mengorbankan nyawaku untukmu

Kurasa belum cukup akan

Mayat yang bergelimpangan dihadapanmu


2009

*



Uang Rakyat

Karya: Deddy Firtana Iman


Tersenyumlah dengan kemewahan

Bangga akan kemenangan

Harta kekayaan demi kekuasaan

Uang rakyat dan penindasan

Kami tertindas

Merasakan terhempas

Oleh penguasa yang beringas

Pejabat duduk hingga puas

Semuanya serba pas

Hingga rakyat tewas

Lalai akan tugas


2009

*



Januari

Karya: Deddy Firtana Iman


Korban kekerasan

Tikamlah aku

Sebelum saatnya


Korban keganasan

Injaklah aku

Sebelum kumarah


Korban kebohongan

Tipulah aku

Sebelum kusadar


Korban kebencian

Hinalah aku

Sebelum aku pergi


Januari

Itulah cerita negeri kami

Para penjilat lidah menari

Sebelum esok berganti Juni


2009


Dimuat di majalah "Lensa Unmuha" edisi VI/Maret 2009

*



Munajat Burung Merak

Karya: Deddy Firtana Iman


Siapa sangka

Tulisanya telah tertulis di batu nisan

Hingga tertidur dengan senyum

Hingga hujan pun membasahi kota kami

Mendengarkan kepergianya


Hilang sudah

Suaranya yang bergetar itu

Kepakan sayapnya yang megah itu

Warna yang merekah itu

Kembali kepadaNya


2009


Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"

Minggu, 13 September 2009

*



Munajat Natijah

Karya: Deddy Firtana Iman


Kebahagianku dariMu

Milikku adalah milikMu

Segalanya.


Kesabaranku belum dapat diukur

Dengan keimananku

Tunjukkanlah jalanMu

Semoga aku dapat menikmati buah Kurmamu

Ketika Ramadhan berkumandang Sahur

Terwujudlah kesabaran dan keimananku untukMu


Buah-buahan

Kenikmatan tiada tara

Setara atau pun tidak

Adalah milikMu

Munajat Natijah


2009


Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"

Minggu, 13 September 2009

*



Gerakan 30 September

Karya Deddy Firtana Iman


Ade Irma Suryani Nasution

Si gadis kecil dipelukan ibunya

terdiam berbalut perih

tertembak!


Kebengisan mereka mengudara

ke pusat ketakutan manusia

bercampur bingkisan kematian

Lubang Buaya tertutup darah

setelah penangkapan

pembantaian sayap kanan

membanjiri Sungai Brantas

“terbendung mayat”


Monumen Pancasila Sakti

bertaburan bunga-bunga kesedihan

tentang kepergian Pahlawan Revolusi


Tangisan Ketakutan

Indonesia

melahirkan manusia-manusia

penindasan berlandaskan

Pancasila yang kaku

atau ompongnya ketuhanan

terhadap diri sendiri


Suara rentetan senapan

suara jeritan kematian

suara ancaman penindasan

dan suara peguasa

masih menghantui kita


Indonesia

memperkuat boneka kekuasaan

terjebak sejengkal isi perut

dan kematian mengejar

manusia sebatas kebohongan


*



Catatan :

Nota Ringkas A.Kohar Ibrahim « Deddy Firtana Iman Sang Penyair » ini pertama disiar Facebook 5 Oktober 2011.

* Deddy Firtana Iman


Sumber : Abdul Kohar Ibrahim

Saturday, 1 October 2011

Gerakan 30 September

Karya Deddy Firtana Iman


Ade Irma Suryani Nasution
Si gadis kecil dipelukan ibunya
terdiam berbalut perih
tertembak!

Kebengisan mereka mengudara
ke pusat ketakutan manusia
bercampur bingkisan kematian

Lubang Buaya tertutup darah
setelah penangkapan
pembantaian sayap kanan
membanjiri Sungai Brantas
“terbendung mayat”

Monumen Pancasila Sakti
bertaburan bunga-bunga kesedihan
tentang kepergian Pahlawan Revolusi

Tangisan Ketakutan
Indonesia
melahirkan manusia-manusia
penindasan berlandaskan
Pancasila yang kaku
atau ompongnya ketuhanan
terhadap diri sendiri

Suara rentetan senapan
suara jeritan kematian
suara ancaman penindasan
dan suara peguasa
masih menghantui kita

Indonesia
memperkuat boneka kekuasaan
terjebak sejengkal isi perut
dan kematian mengejar
manusia sebatas kebohongan


*Dimuat Minggu, 2 Oktober 2011 08:25 WIB


...

Saturday, 10 September 2011

Kota Mati

Karya Deddy Firtana Iman


Di atas langit ada tetesan air
kuharap kau menghitungnya dengan wajah menengadah ke atas
entah itu sambil duduk atau berdiri
yang terpenting kau menghitung tiap ia mampir di wajahmu
dan jika ia tergelincir sejengkal dari wajahmu
berarti ia mampu menghindar dari hitungan palsumu

Atau kau pernah dengar
tentang kicauan burung-burung penghambat daun telingamu
akan kabar yang tak sedap untuk kau dengar dan ia
sengaja menggerutu akan keanehan yang ia lihat
benarkah kau melihatnya

Sekarang
kau lihat di sekitar dirimu
tempat-tempat yang pernah kau singgahi
berapa kalikah orang-orang menghinamu sambil berkata
“orang aneh masuk kota.”

Tentu saja
ia adalah air dan kicauan burung-burung menyebalkan
yang tercipta dari tetesan kegelisahan suara-suara kota
dan kau tentu saja akan mengumpat dalam hati dan sambil berkata
“Kota sialan.”

* Deddy Firtana Iman, bergiat di Komunitas Kanot Bu

Minggu, 11 September 2011 09:11 WIB
Sumber: Serambi Indonesia

Fatamorgana

Karya Deddy Firtana Iman


Khayalan kita berdebu bercampur air
tak terhingga dimana kita mesti berlabuh

Khayalan kita hanya sebatas
materi di ujung pejalan setapak di
dekat emperan toko berbau bubuk kopi

Khayalan dan imajinasi rindu
seutas kata-kata pun tak mampu
mengibaskan luka serpihan penipuan publik
Seperti laut
dataran khayalan menjadi asin


* Deddy Firtana Iman, bergiat di Komunitas Kanot Bu

Dimuat Minggu, 11 September 2011 09:11 WIB
Sumber: Serambi Indonesia

...

Sunday, 28 August 2011

Waktu

Karya Deddy Firtana Iman


Misalnya aku menjadi detik
ketika jam dinding mengabarkan
waktu kebahagiaan untukmu
izinkan aku mengabarkan
sesuatu kebahagiaan
sebelum mimpi indahmu
pergi menemani tidurmu

Ketahuilah wahai kekasihku
detak jantungku tak mampu
meneruskan kepercayaan
cintaku untukmu
bersabarlah menunggu
demi waktu yang tersisa untukmu

17 September 2010

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 03 Oktober, 2010

Lihat di link ini:


Mawar Merah

Karya Deddy Firtana Iman



Mawar merah
dan segenggam madu.
Kian merekah
mengukir kelabu.

Menatap sepi
pada pelangi mengibarkan jingga.
Langkah kaki ini kian berhenti
melamun menatapnya.

Kumbang yang datang
madu tak tergenggam.
Cerita ini kian mengarang
membasuh cahaya malam.

Mawar merah
dan segenggam madu.
Cerita lama
dan isyarat membisu.

2010

Lihat di link ini:


Ujung Pancu

Karya Deddy Firtana Iman


Keringat kita sudah terlalu lelah
mandi dengan keringat perkotaan
hingga lupa pada air yang jernih dan suci
mata air di ujung sana sudah menanti

Perjalanan kita sudah melampaui setengah jam
dengan semburan angin angin menyegarkan
perjalanan kita di pagi yang cerah ini
dan persinggahan hanya sekejap saja

Lihatlah ke sebelah kiri dan kanan kita
rumput rumput menari nari dengan alunan angin
suara burung burung bersahutan riang gembira
dengan kehadiran si anak kota yang aneh

Cepatkanlah langkah kaki kita kawan
tak banyak waktu melamun tentang keindahannya
dan kita juga harus menyisakan keindahan itu
dalam pikiran dan selembar foto yang damai

Kau rasakanlah suara ombak dan angin yang kencang
suasana yang tenang dan nyaman untuk menyendiri
bersama sahabat sahabat dan membuang kebosanan

2010

Lihat di link ini:

Prettyca Yudra Perdana

Karya Deddy Firtana Iman


Jalan menuju cahaya matamu
melambatkan gerak-gerik
tubuh tak menentu
melayang ke arah lantai dasar hatimu
kian terpukul menangis

Aku mulai jatuh
kesakitan diantara batu-batu mutiara
cahaya kilauanmu

Begitu menyedihkan
jika tatapanku tak mampu
mampir di deretan cahaya matamu

17 Juli 2010

Lihat di link ini:
Youtube

Bunga Mawar

Karya Deddy Firtana Iman


Mawar merah
dan segenggam madu.
Kian merekah
mengukir kelabu.

Menatap sepi
pada pelangi mengibarkan jingga.
Langkah kaki ini kian berhenti
melamun menatapnya.

Kumbang yang datang
madu tak tergenggam.
Cerita ini kian mengarang
membasuh cahaya malam.

Mawar merah
dan segenggam madu.
Cerita lama
dan isyarat membisu.

2010

Lihat di link ini:
Youtube

Thursday, 27 January 2011

Undangan Peluncururan Antologi Puisi “Tsunami Kopi



Salam hangat untuk bapak/ibu/saudara sekalian yang berbahagia.
Kami dari Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) Pendidikan Bahasa dan Sasastra Indonesia FKIP Unsyiah berkenan mengundang Anda untuk hadir pada:

...Hari/tanggal : Sabtu, 29 Januari 2011
Pukul : 20.30 s.d. 23.00 WIB
Tempat : Jambo Kupi Apa Kaoy (Lampaseh Kota – Banda Aceh)
Acara :
- Peluncururan Antologi Puisi “Tsunami Kopi
- Diskusi Buku

Pembicara
1. Iskandar Norman
2. Ahmad Fauzan (konfirmasi)

________________________

Kumpulan puisi ‘Tsunami Kopi” ini memberi kabar bahwa pilihan-pilihan pola ungkap dalam puisi mutakhir di Aceh adalah proses belajar terus-menerus berkait kelindan dengan sejarah sastra nusantara sejak bahasa resmi ditemukan pada 1928 sampai Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bahri pernah dicap serupa ‘mata kanan-mata kiri’ sastra nasional. Lirisme sangat dominan, beberapa dalam semangat balada dan mencoba haiku serta satu-dua mengasah puisi pamplet.
[Ahmad Fauzan, Rektor Sekolah Menulis Dokarim]


“Membaca sajak-sajak karya penyair muda berbakat asal Aceh di antologi "Tsunami Kopi," Sungguh membuat saya yang suka sajak ini bukan hanya terhenyak tapi juga terpana. Ternyata para penyair yang berasal dari tanah yang berjuluk Serambi Mekah ini, mampu berpuisi dengan ucap sajak yang baik. Padahal jika dirunut ke belakang, daerah tempat mereka bermain di masa kanak-kanaknya ini, pernah dianggap bergolak dan disapu dahsyatnya tsunami, tetapi puisi-puisi di buku antologi ini tidak membiaskan dendam apalagi yang berbau agitasi.”
[Hardho Sayoko SPB, penyair asal Ngawi]


"Kekuatan pada puisi adalah pada pilihan kata. Antologi puisi ini telah berusaha ke arah sana. Membacanya seperti tengah menyusuri wilayah tanah rencong dengan segala peristiwa yang pernah singgah di sana, tsunami misalnya."
[Dianing Widya Yudhistira, penulis novel NAWANG dan WETON]


“Syair-syair dalam antologi ini mungkin tidak terlalu "canggih," tapi pertautan kata yang berangkat dari perenungan dan kejujuran selalu layak mendapat tempat satu tingkat di bawah kitab suci.”
[Reza Idria, penyair Aceh]


Note: DAPATKAN HADIAH MENARIK DARI PENERBIT DIWANA.
DISKON PENJUALAN BUKU ANTOLOGI HINGGA 35%.....!!!

Demikian undangan ini kami sertakan. Atas perhatian dan partisipasi dari bapak/ibu/saudara kami ucapkan terima kasih.


Salam
Azrol Rizki
Ketua Umum Ge
masastin


Thursday, 20 January 2011

Waktu






Waktu, tak selihai
tatapan bola matamu
wahai kekasihku

Jojo Jalang

Mata Untuk Melihat




Mata untuk Melihat
Lihat aku diantara
Beningnya bola matamu

Jojo Jalang

Sumber: Jojo Jalang

...

Perasaanku

Karya Deddy Firtana Iman



Rambutku
Pernah bercerita tentang gelombang malam
Dia berkumpul melengkung keindahannya tersendiri
Tentang aku mengalun kerinduan malam yang sepi bersama waktu

Mataku
Pernah bercerita tatapan keindahanmu
Namun dirimu tak singgah menari di dalam mataku
Dan aku melihat kau bersembunyi dalam hangatnya lensa mataku

Senyumanku
Pernah bercerita ratapan kebahagiaanmu
Tentang aku yang hadir dalam suka dan duka
Dan aku selalu tersenyum bersama kehadiranmu untukku

Dan perasaanku
Tak pernah jauh dari cerita-cerita asmara
Yang selalu menunggu hadirnya dirimu di sisiku hingga saat ini

2011



Dewi Malam



Derap hitam di bibir, membanyangi lukisan cermin. Rambut-rambut tergerai mengikuti gelap malam. Berbenturan antara senyuman keindahan. Ada luka di bibir, kau katakan "aku tak seindah lukisan malam!" Hanya menabur benih sepi. Aku tahu lukisan tersayat pada garis kematian. Malam telah bersembunyi untukku. Seperti dekapan asmara yang kelabu. Tangisan sepi di waktu menutup tanda sunyi.

Alis mata menutupi napas ruang bersajak empat. Pada dinding bersarang laba-laba penawar luka. Menangkap lalat, memeluk dalam kurungan air liurnya. Kita seakan tahu, betapa bisikannya telah memberanikan diri memotong rantai tangan di asmara malam. Tanpa bintang, hanya desahan angin membuat mimpi indah.

Waktu dan malam. Sempat menyelimuti ruang sendu di detik tatapanku. Pernah mewakilkan bunyi jangkrik dan desahan napas kita. Menyatu kekosongan malam. Tanpa aku dan kamu, adalah sebuah kebohongan menjemput impian masa lalu. Maka, izinkan aku bersajak untukmu. Dewi malam. Malam keindahan. Antara waktu yang gelap, namun penuh detak cinta di lengkungan matamu. Sambil berbisik menutup sepi.

2012

Gambar diambil dari link ini: Dewi Malam

Malam Bersila




Malam Bersila
Karya Deddy Firtana Iman

Kian gelap
hentian malam
ini mengingatkanku
pada seorang kekasih idamanku

Bulan juga
mengerti rasa rinduku
kepadanya

Dan janganlah
aku berdiam diri
terlalu lama di sunyinyamalam

2010


Fotografer: Ferryzal Nizarly

...

Pensil Kayu

Waktu


Waktu
Karya: Jojo Jalang

misalnya aku menjadi detik

ketika jam dinding mengabarkan

waktu kebahagiaan untukmu

ijinkan aku mengabarkan

sesuatu kebahagiaan

sebelum mimpi indahmu

pergi menemanimu tidur

ketahuilah wahai kekasihku

detak jantungku tak mampu

meneruskan kepercayaan

cintaku untukmu

bersabarlah menunggu

demi waktu yang tersisa untukmu

Air Laut

Bayanganku




Bayanganku
Karya Jojo Jalang

Sedikit keyakinan
hidup diantara
kepalsuan dan
tanpa adanya
kepalsuan
diantara kita

Bayanganku
kubiarkan membayangi
pada keyakinannya
untuk dapat
memastikan siapakah
diriku yang sebenarnya

2010


...

Garis Pantai





Garis Pantai
Karya Jojo Jalang

Sebatang pohon ingin
mempertahankan dirinya

Deru ombak selalu
menantikannya untuk tersenyum

Walaupun keadaan asin
mengabarkan keindahan
untuknya

2010


...

Sepi


Dari panggung
Ada kesepian
 
Sejenak nakal
Dalam kesunyian

Empat senar
Tak melebihkan

Nada sendu
Siap merayu

Jika rindu
Aku menunggu

Diam dan
Sepi sendiri

Adalah tanda sunyi
Sendiri pun matai

2012

Gambar diambil dari link ini: Facebookku

Waktu

Gundah

Karya Deddy Firtana Iman


Renungan warna
Harumnya bunga mawar
Semakin menyentuh melekat senyuman kesederhanaanku

Dan meresapi setiap waktu
Menjadikannya putih bercahaya
Dalam kilauan rambutku ada senyuman tak tertahankan

Relung kegundahanku
Mengimbangi lorong-lorong cahaya
Menyempurnakan letak isi hatiku untuk yang terkasih

Bersama waktu dan impian
Aku ada diantara segalanya
Untukmu seorang...

2011


Tak Ada Alasan Berkeluh Kesah

Dermaga Cinta

Cahaya

Langit Melejit Rindu

Sempurna Terdiam Sepi

Karya Deddy Firtana Iman


Lihatlah
hamparan pasir di pantai

Berjalanlah
memakai alam pikiran kesegaran hati

Jangan berhenti
penyesalan menghantui dirimu
dan tetap berjalan

Rasakanlah air asinnya
basuhlah kedua tanganmu
dan rasakan kesempurnaan
tanpa terdiam sepi karena angin menemanimu
di setiap langkah kakimu

25 Januari 2010

Model: Ayuna Rafian

Renungan Malam

Karya Deddy Firtana Iman


Kau telah menyingsut kedinginan
Betapa kenestapaan itu terjalin sepi
Menandakan bintang-bintang kian
Tersenyum melihat bulan di dekat
Landasan perbaringan menggapai takdir mimpi
Tiada kata untuk mengucapkan salam perpisahan
Diantara bayangan kerinduan untukmu
Sebelum menggapai pagi

10-08-2010

Sumber foto: Ayuna Rafian

Tak Ada Apa - Apa



Sunday, 3 October 2010

Kertas


Kertas merah
didaur ulang menjadi merah jambu
terlalu sulit
merangkai bentuk wajah indahmu
sedangkan malam
memudarkan warna hati
hitam bertaburan bintang

07 September 2010

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 03 Oktober, 2010

Gambar diambil dari link ini: Kertas dau Ulang

Waktu


Misalnya aku menjadi detik
ketika jam dinding mengabarkan
waktu kebahagiaan untukmu
izinkan aku mengabarkan
sesuatu kebahagiaan
sebelum mimpi indahmu
pergi menemani tidur

Ketahuilah wahai kekasihku
detak jantungku tak mampu
meneruskan kepercayaan
cintaku untukmu
bersabarlah menunggu
demi waktu yang tersisa untukmu

17 September 2010

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 03 Oktober, 2010

Gambar diambil dari link ini: Waktu

Tuesday, 21 September 2010

Hitam Pekat


Di balik lentera hati
ada beberapa insan kata
berhenti hanya tersenyum
dengan sedikit hembusan angin

Kedekatanku
tak pernah menimbulkan
kejiwaan dadakan
menghembuskan kata-kata
di daerah takdir tak bertepi

Seumpama kertas itu
hanya berwarna hitam
maka hitamlah ratapan kita
tak terlihat dengan mata telanjang

2010

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 19 September, 2010

 Gambar diambil dari link ini: Kertas Hitam

Friday, 17 September 2010

"dua penyair di balik bing" - jojo mohak jalang dan delima de wilde sri"

"dua penyair di balik bing" - jojo mohak jalang dan delima de wilde sri"

oleh Jojo Jalang pada 26 Maret 2010 jam 0:11
Penulis: Hudan Hidayat


jojo jalang
cinta di balik puisi

Lembaran lama diantara sejuta puisi
Ini ada sedikit diksi tertunda ke beranda matamu
Dikala malam menjemput mimpi-mimpi indah
Menemanimu bersemayam lembaran puisiku
Ketika untaian kata bertegur sapa dengan ingatan
Beberapa ucapan kegelisahanku berserakan
Diantara lembaran putih untukmu

Ini ada sedikit puisi
Di balik sejuta daya imajinasiku
Beberapa bulan yang lalu
Dengan berat hati
Aku berkata padamu
“Cinta di balik puisi”

2010



delima de wilde sri
malam terakhir

Kunyalakan lilin hati
Hanya untuk kita
Kutuangkan anggur putih
Untukmu agar tak letih

Kusajikan hidangan untukmu
Kutuangkan minuman cintaku
Kusajikan lagu asmara
Untuk cinta nan membara

Indah betapa indahnya
Mesra malam itu kita berdua
Namun sayang seribu sayang
Cinta itu ada penghalang

Pada akhir
Kitapun harus berpisah


------------------------------------------



bing slamet telah meninggal dan penyanyi titiek puspa mengabdikannya dalam lagu yang tenar - bing, katanya, yang kini sedang saya dengar dari youtube. saya mendengar grace simon seolah melihat satu masa di mana hidup tak ada yang pasti. kini pun hidup tak ada yang pasti. kapan kapan hidup bisa direnggut oleh kematian, atau oleh kehilangan yang lain.

kapan kapan seperti itulah yang dicatatkan oleh dua penyair, yang oleh sifat kehilangannya yang kontras dengan lagu bing ini, saya lekatkan dalam satu tulisan, mencoba mengambil spirit lagu yang menjeritkan kematian dan kata yang menuliskan sebuah kehilangan.

apakah yang terjadi di puisi jojo jalang itu? jelas tak ada kematian di sana. hanya kehilangan, atau tepatnya: dua orang gagal untuk bertemu. oleh sebab apa mereka tak bisa bertemu? puisi tak mengatakannya. puisi hanya mencatat sebuah denyut hati dengan kata kata yang indah. saya kira manis. dan sifat manisnya kata ini yang membuat saya memainkan satu kemungkinan tafsir lain: lihatlah rambut sang penyair - mohak. mohak yang datang dari satu tradisi yang keras: dunia anak punk. dunia getir yang kita suka lihat di jalanan.

dunia yang bisa menggoda persepsi lain atas manusia yang tak familiar dengan gerak kita. tapi kini nyata memantul membalik ke dalam satu puisi yang romantis dengan pemakaian kata yang jauh dari dunia yang brutal.

"Lembaran lama diantara sejuta puisi
Ini ada sedikit diksi tertunda ke beranda matamu"

alangkah manis kata kata itu. manis yang pedih. manis yang sayu. ataukah lagu bing ini yang telah menghanyutkanku, membuat hati jadi melankolik? tidak juga. bing memang menyayat dan kita tersayat oleh sebuah berita kematian yang dijeritkan oleh grace simon.

sifat kata yang dimainkan penyair jojo jalang bukanlah kehilangan dalam arti kematian. hanya kehilangan saja - orang yang gagal bertemu dalam hidup nyata. tapi di sanalah ada ruang manis bernama kenangan. ruang pembayangan. sedang apa orang yang kita kenang itu kini? ah mungkin ia sedang mendengarkan musik seperti kita juga. atau mengapa tidak sedang membaca atau menulis puisi?

dari kenangan lama kita, ini ada sedikit diksi tertunda, yang kukirimkan ke berandamu, kekasih.

tapi kau di mana? sampaikah diksi yang tertunda itu kepadamu? tapi kau di mana?

kau di mana ini yang bermain main dalam novel sampar albert camus, saat grand yang malang mengenang kekasihnya yang telah pergi pada suatu hari natal. natal yang bahagia bagi semua orang. tapi tidak bagi grand dan penduduk kota oran yang lagi terkena bencana.

grand yang tua seakan hendak memeluk kaca yang menjual pohon natal. ia mengenang kekasihnya jeane yang kini entah di mana. kau di mana jeane. adakah kau baik di sana? aku di sini mengenangmu. aku tak bahagia kau pergi. tapi aku tak bahagia juga kita bersama lagi.

kenangan yang membuat manusia hidup. kenanganan yang memaksa penyair mohak jojo jalang mengirimkan satu kata yang indah kepada seseorang di sana:

ini ada sedikit kata yang tersisa, kukirimkan ke beranda matamu kekasihku.

*

"ini ada sedikit puisi
di balik sejuta daya imajinasiku"


puisi ini terus menunda kesimpulan apa yang terjadi di antara dua orang di sana. dua kata kunci yang dimainkannya hanya menunjukkan suasana kerinduan. suasana solitaire dirinya sendiri. sedang apa yang terjadi dia tak pernah mengatakannya. mengapa sejuta daya imajinasinya tak dikayuh ke dalam kenyataan tak pula datang melambai kepada kita untuk kita pahami. jadi puisi mengayunkan dirinya ke dalam dunia kenangan semata. hanya ingatan pada seseorang di sana. ingatan yang terkunci dalam larik pada baris kata di akhir puisi.

"beberapa bulan yang lalu
aku berkata padamu
cinta di balik puisi", katanya.

mengapa kata itu tak diucapkannya di beberapa bulan kemudian, sang penyair tak membukanya kepada kita pembaca. dia hanya meminta kita mengamati permainan kata katanya yang penuh melankoli hati itu.

"Beberapa ucapan kegelisahanku berserakan
Diantara lembaran putih untukmu"

kegelisahan apa yang ditoreh di lembaran putih dari hidup yang hendak baik itu, kita hanya bisa menduga duga saja.

hal yang sama terjadi dengan penyair delima de wilde sri, saat ia aku lirik begitu imajinatif datang pada kita dengan lilin di tangan, lilin yang ia letakkan di meja kenangannya yang terakhir, dan kita pembaca dimintanya untuk datang dengan lilin di meja kenangannya semacam itu.

"kunyalakan lilin hati
hanya untuk kita"

katanya.

dan seperti yang terjadi pada penyair jojo, delima pun tak menghadirkan tokoh puisinya pada meja kenangan di malam terakhir itu. lilin, santapan malam, juga anggur di sana, hanya ada dalam benak sang aku lirik dalam puisi. bukan sebagai fakta di meja makan di malam terakhir. perjamuan itu hanya ada dalam kayalan sang penyair. tapi kita diminta untuk mengikuti kenangannya. kita sendiri yang menghadirkan meja dari kenangan terakhir di malam terakhir puisi delima de wilde sri.

semua hanya terjadi dalam kenangan.

oleh sifat kehadiran hayal seperti itu, saya kira dunia bahasa datang pada kita dengan empasan emosi yang penuh. bahwa penyair menghadirkan kenyataan. tapi kenyataan yang hadir hanya kanyataan kenangan. maka terjadilah kenangan di balik kenangan. fiksi di dalam fiksi. semua tak nyata dan semua bisa didorong ke dalam benak manusia. kita pun masuk pada dunia ingatan kita sendiri. dunia kenangan dari masa yang mungkin jauh mungkin dekat dalam dunia nyata kita sendiri.

kenangan demi kenangan telah terjadi dan telah berlalu dalam hidup manusia. hidup dalam alam nyata dan hidup dalam hayal yang dihadirkan ke dalam bahasa.

dan tetap: apa yang terjadi di sana kita tak pernah tahu: mengapa sang aku lirik dalam puisi tak jadi bersatu dengan kekasihnya?

cinta kita ada penghalang, katanya. tapi penghalangnya apa? segeralah kita masuk kepada ingatan kita sendiri. kepada fakta hidup kita sendiri. bahwa apapun bisa terjadi. bahwa sebagian semua memang telah terjadi.

dunia bahasa yang universal itu kini masuk ke daerah subjektif dari tiap manusia. kita boleh bermain main mengisi apa penghalang yang diayunkan oleh penyair delima, ke dalam kasus hidup kita sendiri, atau hidup orang yang kita kenal dalam kenyataan.

"indah betapa indahnya
Mesra malam itu kita berdua
Namun sayang seribu sayang
Cinta itu ada penghalang

Pada akhir
Kitapun harus berpisah "

ya sudahlah delima dan jojo mohak jalang, kalau kalian tak mau membuka kenangan subjektif kalian kepada kami pembaca. biarlah kita sama sama memasuki dunia batin kita sendiri. mengisinya dengan kenangan pahit dan gembira dari hidup kita masing masing.

ya sudahlah. seperti kata penyanyi emilia contessa: hidup memang hampa, jojo, delima, dan embun azza.

tapi hampa yang indah.
hampa yang bahagia.

huhi



.............................................................................................................................

Ditulis 3 jam yang lalu • Komentari • Suka • Laporkan Catatan
Anda, 'Athan Wira Bangsa', Serigala Di Tepi Sunyi, dan 5 orang lainnya menyukai ini.

Embun Azza
Selalu indah, bahasa oh bahasa. Penutupnya indah, terimakasih Fa fa Huhi.. Hehe, sudah embun baca diberanda hati ini.




Jojo Jalang
Rindu kata dan kasih sayangnya, berada di catatan ini. Cintailah kata, walaupun tak mampu untuk bertemu dan berucap denganya. Begitu indah sajianmu ini Guru-ku.
I Love you Full.... ^_^



Serigala Di Tepi Sunyi
Melankoli,kehilangan,kenangan.

Menemu suatu nuansa rindu yang menurutku sangat liris.

Meja dengan lilin itu menyentuh sekali ya,bung.... Lihat Selengkapnya
Pun bait terakhir yang membentuk ruang yang lain namun menguatkan apa dan makna dalam puisi ini.

Syahdu deh..hehe.

Menantimu,bung..



Jurnal Sastratuhan Hudan
jangan ucapkan full kelak aku cepat mati hiks: aku mau hidup! mbah surip tak gendong hehe



Jurnal Sastratuhan Hudan
iya serigala. itu seperti perjamuan abad abad tengah ya. siap datang sambil menarik mengintip waktu. serigala sunyi seperti hudan yang sepi hati. oh betapa sepi di atas sana, serigala, kau dan aku tahu.



Serigala Di Tepi Sunyi
Oh..Hiks...
Yang sepi hati jadi melankolis..

Hiks...meja itu mengapa lilin ?.hiks..aku jadi iri tak sesepi itu seperti Delima itu.hiks..
... Lihat Selengkapnya
Indah ya..betapa sebuah kenangan ternyata dapat menembus ruang dan waktu.membuat kita memeras hasrat atau malah merelakannya atas nama cinta.oh ..cinta mu Jojo dan Delima.benar-benar sebuah puisi. Hehe

beli bir dulu ya..hehe.



Jojo Jalang
Hihihiiiii.... Maaf Guru-ku, tak akan Jojo ucapkan lagi kata-kata itu. Semakin kumerindukanya, "tak gendong ke cinta di balik puisi" Prikitiuuuu.... ٩(̾●̮̮̃̾•̃̾)۶



Jurnal Sastratuhan Hudan
hehe layaw - mari berlayar



Jojo Jalang
Berlayar menuju ketepian hati



Jurnal Sastratuhan Hudan
nah itu dia puisi serigala sunyi, puisi yang paling ih akyu suka: ai laik it: beli bir dulu ya hihihi


Jurnal Sastratuhan Hudan
syarat penciptaan: mabuk mabuk.


Jojo Jalang
Guru-ku, minta ijin di copas ke catatan Jojo ya. Bolehkan?
^_^


Jurnal Sastratuhan Hudan
tak. boleh. tak. boyeh dink hehe haiwe star mari naik unta ramai ramai hehe


Jojo Jalang
Hihiiiii... terimakasih Guru-ku.
Ikuttt.... Tunggu Jojo di padang pasir cintanya Unta.

.............................................................................................................................

*Maaf, jika hanya bisa mengcopaskan saja. Harap maklum. ^_^
Di copy dari link-nya Guru Hudan Hidayat

Link-nya :
Jurnal Sastratuhan Hudan
http://www.facebook.com/note.php?note_id=377741492545

Link-nya:
Jojo Jalang
http://www.facebook.com/note.php?note_id=413497935490



*Biar lebih asli, makanya di copas habis dan tanpa di edit ulang... :)

Sunday, 29 August 2010

Renungan Malam

Karya: Deddy Firtana Iman


Kau telah menyingsut kedinginan

betapa kenestapaan itu terjalin sepi

menandakan bintang-bintang kian

tersenyum melihat bulan di dekat

landasan perbaringan mengapai takdir
mimpi

tiada kata untuk mengucapkan salam
perpisahan

di antara bayangan kerinduan untukmu

sebelum mengapai pagi


(Agustus 2010)

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 29 Agustus, 2010

Sunday, 25 July 2010

Sempurna Terdiam Sepi


Karya Deddy Firtana Iman

Lihatlah
hamparan pasir di pantai

Berjalanlah
memakai alam pikiran kesegaran hati

Jangan berhenti
penyesalan menghantui dirimu
dan tetap berjalan

Rasakanlah air asinnya
basuhlah kedua tanganmu
dan rasakan kesempurnaan
tanpa terdiam sepi
karena angin menemanimu
disetiap langkah kakimu



2010

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 25 July 2010

Sunday, 9 May 2010

Tak Ingin Usai

Bahwasannya aku

masih menyisakan waktu

bermanja pada wujudmu



Tak ingin usai

walaupun kusudahi

kesempatan untuk menemui

disetiap jarak isi hati

dengan segalagala hari

hingga kuakui



Aku tak ingin usai

dicintai dan dimengerti

oleh sebuah hati

dari dirimu sendiri



2010

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 09 Mei, 2010