Beranda Judul

Monday, 12 April 2010

Air Mata Ibu

Karya: Deddy Firtana Iman


Ibu mengayuh tangan

menghajar batu kekal

di tepi gunung yang jurangya memikat

kematian


Pulang-pulang

tanganya berlumuran darah

baju basah kuyub

segoni batu-batu telah didapatnya

dengan perasaan yang galau

penuh tanda tanya yang mengherankan

“untuk apa kita hidup

hanya berbekal penipuan yang angkuh

sirna dihapus hujan

tidak abadi di hinggap matahari”


Kami semuanya terdiam

mendengar jerit hatinya

mulai mengeluarkan air batu

dari bola matanya yang resah

aku pikirkan jerit hatinya

tentu saja tapak tanganya

tiada berhenti untuk bekerja

memenuhi kebutuhan kami

hingga Ibu meninggal dirintih kesakitan

oleh hidup melarat kemiskinan


(2009)


*Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 11 April 2010

Sunday, 4 April 2010

Isyarat Kematian

Karya: Deddy Firtana Iman

Usiaku
mulai meninggi
dusta nestapa melingkar leher
Ribuan keji munafik tercipta
agama terlupakan

Malaikat mulai mendekat
memperlihat senjata
wujudku membisu

Iblis dan setan-setan mulai tersenyum
Memiliki teman dikemudian harinya
Isyarat kematian untukku

Inilah
aku, lelaki pendusta itu
yang engkau cari
yang selama ini membunuhmu

Lihatlah aku
dan tataplah wajahku


*Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 04 April 2010

Sunday, 24 January 2010

Limit Kepalsuan

Oleh : Deddy Firtana Iman

Hari ini kejahatan penguasa telah tertunda
Pada limit janji-janji mereka
Dan segelintir orang-orang
Mulai memaku tatapan beringas mereka
Pada jabatan terkutuk itu.

Kesekian kalinya
Kita tertipu dengan mukadimah
Kebahagiaan mereka
Dan kita di sini
Dengan luka tercabik pada luka yang baru

Ini kisah hidup kami
Apakah tuan begitu!

2009

Dimuat di http://situseni.com/?p=Index&r=D&idpost=424&id=Deddy%20Firtana%20Iman

Memiriskan Hati

Oleh : Deddy Firtana Iman

Kelopak duri bertahta sendiri
Suasana lakon iri hati
Memungkinkan hidup bertepi
Pada kemelut resah berduri
Rupanya hati teriris sepi

Tancapkanlah pisau tak bergigi
Pada tepian iri hati
Kemungkinan kau sendiri
memaksaku jual diri
Sebab, tiada arti hidup sendiri

2009

Dimuat di http://situseni.com/?p=Index&r=D&idpost=425&id=Deddy%20Firtana%20Iman

Sunday, 13 September 2009

Munajat Burung Merak

Karya: Deddy Firtana Iman

Siapa sangka
Tulisanya telah tertulis di batu nisan
Hingga tertidur dengan senyum
Hingga hujan pun membasahi kota kami
Mendengarkan kepergianya

Hilang sudah
Suaranya yang bergetar itu
Kepakan sayapnya yang megah itu
Warna yang merekah itu
Kembali kepadaNya
2009

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 13 September 2009

Munajat Natijah

Karya: Deddy Firtana Iman

Kebahagianku dariMu
Milikku adalah milikMu
Segalanya.

Kesabaranku belum dapat diukur
Dengan keimananku
Tunjukkanlah jalanMu
Semoga aku dapat menikmati buah Kurmamu
Ketika Ramadhan berkumandang Sahur
Terwujudlah kesabaran dan keimananku untukMu

Buah-buahan
Kenikmatan tiada tara
Setara atau pun tidak
Adalah milikMu
Munajat Natijah
2009


Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 13 September 2009

Munajat Nyanyian

Karya: Deddy Firtana Iman


Penuh Doa-doa
Kebahagiaan itu hadir dipelukanku
Seperti senja menarik fajar

Kenikmatan apa lagi
Yang hadir dalam rebahan takdirku
Penuh sujud syukur
Kebahagiaan itu hadir kembali
Di hari esok yang kelabu

Nyanyian hati
Bahasa jiwa yang terpatri
Dari hari ke hari
Penuh kesabaran
2009


Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 13 September 2009

Munajat Kerinduan

Karya: Deddy Firtana Iman

Terbuka mataku
Cerahan cahaya menusuk
Membenarkan adanya diriMu

Lamunanku pun memanggil namaMu
Rindunya aku padaMu

Kebahagian dan kerinduanku
Tepat tertunduk bersujud
Siang dan Malam
Memberikan cahaya panggilanMu

MerindukanMu
Siang dan Malam
Tak terlupakan
Doa-doa memujamu

2009

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 13 September 2009